For Noble Civilization

Layanan 24 jam

Sharia Education

Islamic Knowledge

  • Peta Pendidikan Keuangan Syariah

    Di Indonesia, sedikitnya dibutuhkan 200 ribu bankir untuk perbankan syariah hingga lima tahun mendatang (Republika Online, 17 Okto ber 2011). Sejauh ini, 70 persen tenaga profesional di perbankan syariah justru direkrut dari bank-bank konvensional. Sementara latar belakang yang dimiliki belum mendukung kualitas industri keuangan syariah.

    Sayyid Tahir dalam tulisan beliau Islamic Finance – Undergraduate Education pada jurnal yang dipublikasikan oleh Islamic Development Bank (IDB), Islamic Economic Studies, Vol. 16 No. 1 & 2, Agustus 2008 & Januari 2009, mengungkapkan bahwa yang memfasilitasi kebutuhan pengajaran keuangan syariah adalah para ekonom syariah yang sebenarnya belum memiliki keahlian dalam keuangan syariah secara profesional. Para praktisilah yang sesungguhnya mengaplikasikan ilmunya pada industri keuangan syariah. Mereka pula yang mengantarkan, mengenalkan dan mempraktikkan langsung kepada masyarakat, sehingga memberikan dampak terhadap persepsi masyarakat.

    Menurut Sayyid Tahir, sejumlah negara telah mengembangkan pendidikan ekonomi dan keuangan syariah, sebagai upaya memenuhi kualitas SDM yang dibutuhkan. Pakistan telah memulai program ini dengan mendirikan International Islamic University, Islamabad pada 11 Nopember 1980. Universitas ini fokus pada dua spesialisasi ekonomi, yaitu fasih bahasa arab dan ahli dalam usul fiqh dan fiqh, serta unggul dalam ekonomi modern dan dasar-dasar ekonomi syariah. Selanjutnya, tahun 1985, Pakistan mulai membuka program master dan doktoral. International Institute of Islamic Economics (IIIE) membuat pelatihan untuk para dosen dan pejabat senior di pemerintahan dan perbankan. Hasilnya, pada tahun 1991, Mahkamah Syariah Pakistan mendeklarasikan bahwa semua bentuk bunga, termasuk yang dipraktikkan di perbankan adalah riba. Kemudian industri keuangan syariah mulai tumbuh.

    Sementara itu, di level sarjana sudah mulai diwajibkan mata kuliah yang terkait dengan perbankan dan keuangan syariah pada tahun akademik 1997-1998. Sehingga, pada tahun 2002 dikeluarkan lisensi bank syariah komersial pertama di Pakistan. Tahun 2007, program B.Sc (Hons) Perbankan dan KeuanganIslam ditawarkan dengan 136 SKS wajib serta program terpisah untuk pengembangan keahlian Bahasa Arab.

    Sedikit berbeda dengan Pakistan yang telah memulai dengan pendidikan mendasarnya, Malaysia memulai industri keuangan syariah melalui kerangka legal pada tahun 1983. Dasar hukum legal ini kemudian menjadi stimulus industri tersebut yang dimulai dengan pendirian bank syariah dan asuransi syariah pertama pada tahun 1984.

    Di tingkat universitas, program perbankan dan keuangan syariah kemudian diperkenalkan, seperti di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Universiti Utara Malaysia (UUM), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), serta International Islamic University Malaysia (IIUM). Semua universitas tersebut menawarkan program sarjana, master, dan doktoral khusus ekonomi, perbankan, keuangan dan akuntansi syariah. UiTM memulainya pada 1999 dengan salah satu kewajiban mahasiswanya adalah berpartisipasi dalam magang. UUM menawarkan 115+ SKS program sarjana Keuangan dan Perbankan Islam. Institute of Islamic Banking and Finance menawarkan program Postgraduate Diploma dan PhD Perbankan dan Keuangan Islam.

    Ada pula universitas yang menawarkan program sarjana syariah namun dengan mayor syariah dan ekonomi, seperti di Universiti Malaya (UM). Di program sarjana ekonominya, UM menawarkan tiga SKS untuk Matakuliah Perbankan dan Keuangan Syariah. Sementara Universiti Putra Malaysia (UPM) menawarkan mata kuliah Keuangan Syariah pada program sarjana ekonomi dan Manajemen Keuangan Syariah pada program sarjana akuntansi. Selain itu, program pelatihan juga ditawarkan oleh sejumlah universitas dan institusi terkemuka di Malaysia, seperti International Center for Education in Islamic Finance (INCEIF).

    Brunei pun telah aktif dalam pendidikan keuangan syariah. University of Brunei Darussalam telah memiliki minor Perbankan Islam pada Fakultas Studi Bisnis, Ekonomi, dan Kebijakan di level sarjana dengan 15 SKS. Sementara itu, program master untuk perbankan dan keuangan Islam ditawarkan oleh Centre for Islamic Banking, Finance, and Management pada universitas yang sama.

    Pendidikan Timteng


    Sementara itu, industri keuangan syariah yang berkembang di negara-negara di Timur Tengah tidak dibarengi dengan perkembangan pendidikan keuangan syariah di tingkat pendidikan formal, seperti di Iran dan Sudan. Meskipun industri keuangan syariah telah dimulai sejak 1983 dan 1984, tidak ada keterang an yang jelas mengenai bagaimana sumberdaya manusia (SDM) di sana memperoleh pendidikan keuangan syariah pada tingkat lokal.

    Pada level sarjana, hanya ada satu mata kuliah, yaitu mata kuliah Institusi Keuangan Syariah, yang ditawarkan pada program B.Sc Banking and Finance di University of Bahrain. Di Saudi Arabia, Imam Muhammad bin Saud Islamic University hanya menawarkan topik keuangan syariah yang disisipkan pada matakuliah yang terkait dengan syariah pada Departemen Ilmu Ekonominya. Demikian pula pada University of Jordan, Amman, mereka hanya mempunyai satu matakuliah pilihan, yaitu matakuliah Al-Masarif Al-Islamiyyah, yang ditawarkan pada program B.Sc Finance dan matakuliah Ekonomi Islam pada B.Sc Business Economics.

    Berbeda dengan universitas lain di Timur Tengah, Yarmouk University Yordania telah memiliki program sarjana di Departemen Ekonomi dan Perbankan Islam pada Fakultas Syariah dan Studi Islam. Mereka menawarkan 132 SKS dengan rincian sebagai berikut: 27 SKS mata kuliah universitas, 27 SKS mata kuliah fakultas, 21 SKS mata kuliah terkait akuntansi, statistika, uang dan perbankan, dan sisanya adalah mata kuliah departemen khusus terkait ilmu ekonomi dan perbankan Islam. Serta ada pula program minor Ilmu Ekonomi dan Perbankan Islam 21 SKS yang ditawarkan dalam mayor Akuntansi, Perbankan, dan Keuangan atau Administrasi Umum.

    Sejumlah tantangan


    Beberapa masalah sering dihadapi mahasiswa yang masuk ke program pendidikan keuangan syariah tingkat universitas, terutama di negara-negara luar Timur Tengah. Pertama, penguasaan Bahasa Arab dan Usul Fiqh/Fiqh. Kedua hal tersebut tidak umum dan tidak diajarkan pada masa sekolah. Oleh karena itu, lulus Bahasa Arab menjadi salah satu syarat untuk mengikuti program pendidikan keuangan syariah.

    Kemudian adalah ketersediaan tenaga pendidik yang berkualitas. Mungkin mereka sangat bagus dari sisi pemahaman fiqh, tapi kurang bisa mengajak mahasiswa untuk berpikir kritis terhadap isu-isu di industri keuangan syariah. Selain itu, literatur yang masih terbatas juga menjadi permasalahan sebagai sumber ilmu.

    Tantangan selanjutnya, belum adanya model riil perbankan, asuransi, dan sekuritas syariah yang dipraktikkan di dunia saat ini. Pemahaman yang tersebar adalah sejauh tidak ada riba atau tidak ada bunga, maka transaksi dapat dilanjutkan. Namun, pada praktiknya, keuangan syariah masih menggunakan kerangka konvensional. Sehingga, praktik yang berlaku adalah shariah-compliance dan belum shariah-based. Oleh karena itu, transfer ilmu keuangan syariah pada tingkat pendidikan formal sangat ditekankan untuk melahirkan industri keuangan syariah yang lebih baik. Dalam konteks ini, Sayyid Tahir telah menawarkan pembuatan blueprint untuk pengajaran perbankan dan keuangan Islam serta kurikulum syariah yang aplikatif. Wallahu a’lam.

    Laily Dwi Arsyianti, Dosen IE FEM IPB dan UIKA Bogor

    Sumber: Ekonomiislami.wordpress.com

    Posted on 11/01/2012 by shariaeconomicforum

  • Hakikat Islamic Wealth Management

    Munculnya outlet-outlet berikut produk yang semakin bervariasi jasa pelayanan keuangan Syariah ternyata secara perlahan memunculkan bentuk industri keuangan Syariah baru, yaitu pengelolaan kekayaan pribadi secara Syariah (Islamic Wealth Management). Atau dalam beberapa aspek pembahasan pengelolaan kekayaan ini dikenal pula sebagai perencanaan keuangan keluarga secara syariah (Islamic Financial Planning). Beragam portfolio keuangan Syariah berupa deposito, reksadana, asuransi, pasar modal dan lain sebagainya menjadi pilihan keluarga muslim kelas menengah keatas dalam pengelolaan harta mereka. Perkembangan industri tersebut mampu melayani golongan masyarakat tersebut terhadap kebutuhan aktifitas ekonomi sesuai dengan prinsip-prinsip syaria. Kebutuhan tersebut muncul seiring dengan semakin merekahnya populasi muslim menengah keatas Indonesia yang merefleksikan pula semangat keislaman yang tumbuh diantara mereka.
    Penghasilan cukup memadai dan tingkat saving yang semakin meningkat dikalangan keluarga-keluarga muslim, semakin merangsang industri jasa pengelolaan kekayaan, terlebih lagi kondisi tersebut didukung kondisi dimana pribadi-pribadi muslim tersebut semakin sempit memiliki waktu luang untuk mengurusi kekayaan mereka. Kehadiran pengelola kekayaan tentu saja akan sangat membantu kebutuhan segmentasi masyarakat ini. Bahkan pengelolaan kekayaan ini bukan hanya bersifat pada pengelolaan yang berorientasi profit tetapi juga orientasi sosial dan kebutuhan keluarga lainnya, seperti alokasi kekayaan untuk membayar kewajiban zakat, infak, sedekah atau wakaf. Selain itu pengeluaran kebutuhan keluarga seperti alternatif dan alokasi biaya sekolah Islami untuk anak, rekreasi,

    Namun satu hal yang perlu digaris bawahi adalah bahwa praktek Islamic Wealth Management atau Islamic Financial Planning sejauh ini belum mencerminkan hakikat pengelolaan kekayaan dalam Islam. Nilai-nilai moral dalam akidah dan akhlak, belum tergambar secara utuh dalam aktifitas industri baru tersebut. Oleh sebab itu, selintas praktek Islamic wealth management terkesan sebatas ”pengelolaan harta para pemilik orang kaya untuk memelihara atau bahkan menggandakan kekayaan mereka secara syariat/halal (jika tidak ingin didefinisikan aktifitas penumpukan harta secara syariat)”. Kondisi ini tentu akan mengkerdilkan makna Islamic wealth management terbatas hanya aktifitas berorientasi materil, tanpa “ruh”, tanpa “jiwa” keislaman yang lebih kental nuansa ibadah pada setiap aktifitas muamalah.

    Dengan demikian, sebelum memahami secara lebih menyeluruh apa hakikat Islamic wealth management dan menanamkan jiwa keislaman dalam muamalah-muamalah ekonomi-keuangan, sebaiknya diidentifikasi dulu nilai-nilai moral Islam yang berkaitan erat dengan harta. Beberapa nilai dari nasehat Nabi yang bisa dijadikan pedoman adalah:

    “Harta yang baik adalah harta yang berada di tangan orang shaleh”
    “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang memberikan manfaat bagi manusia lain”

    Nilai moral yang disebutkan oleh hadits yaitu harta yang baik adalah harta yang berada di tangan orang-orang shaleh, berarti terkait dengan wealth management ini, pengelolaan harta pada dasarnya akan mencerminkan keshalehan pelaku atau pemilik harta. Apa indikasinya? Indikasinya adalah harta tersebut dikelola dengan niat, cara-cara dan tujuan untuk kepentingan Allah SWT semata. Nilai moral kedua mungkin akan semakin mentekniskan definisi keshalehan, yaitu nilai manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Terkait dengan wealth menagement, kekayaan sepatutnya menjadi alat untuk menyebarkan atau memaksimalkan kemanfaatan pemiliknya. Dengan kata lain, keshalehan seseorang akan semakin bisa diukur berdasarkan jumlah kekayaannya yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungannya. Artinya harta itu hanyalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih baik yaitu mewujudkan pemiliknya menjadi manusia yang paling mulia.

    Berdasarkan nilai-nilai moral Islam ini, orientasi manusia dalam mengelola hartanya berdasarkan syariah Islam akan berorientasi utama pada dua hal. Yang pertama, pemanfaatan harta tersebut digunakan untuk kelangsungan kehidupan diri dan keluarganya, sebagai sebuah kebutuhan yang wajib berdasarkan kefitrahannya sebagai manusia. Yang kedua adalah pemanfaatan harta tersebut bagi manusia diluar keluarga, atau pemanfaatan yang bermotif pada amal shaleh sebagai alat dalam rangka mendapatkan gelar kemuliaan dari Tuhan berdasarkan standard-standard yang dikhabarkan juga oleh Tuhan.

    Motif kebutuhan primer dan amal shaleh menjadi dua sasaran utama penggunaan atau pemanfaatan harta. Karena lazimnya kebutuhan primer tersebut relatif tetap bagi setiap individu, maka pertambahan kekayaan sepatutnya mempengaruhi penambahan amal shaleh atau pemanfaatan kekayaan tersebut bagi manusia lain. Dan tentu saja, paradigma ini akan mempengaruhi motivasi seseorang dalam mencari kekayaan. Diyakini bahwa semangat mencari harta pada hakikatnya adalah refleksi dari semangat memaksimalkan amal shaleh, bukan semangat memaksimalkan penikmatan atasnya.

    Lihatlah contoh-contoh yang disajikan oleh kehidupan manusia-manusia mulia terdahulu, para Nabi dan Rasul, Sahabat dan para Wali, meskipun sejarah mengenali mereka sebagai saudagar-saudagar yang melimpah perniagaannya, tetapi sejarah tak luput memotret kehidupan keseharian mereka yang bersahaja. Mereka mengambil apa yang cukup untuk hidup mereka dan selebihnya mereka ikhlaskan untuk manusia lain, untuk ummat, untuk Tuhan mereka. Seseoarang diantara mereka yang mulia itu pernah berkata: ”manusia di dunia itu seperti tamu, dan harta mereka seperti pinjaman. Akhirnya tamu akan pergi dan pinjaman pasti dikembalikan.”

    Dengan begitu tujuan pengelolaan harta tidak dilimitasi pada kegiatan penumpukan harta sesuai syariat tetapi lebih dari itu adalah pengelolaan harta untuk memaksimalkan diri menjadi manusia yang terbaik di mata Allah SWT. Orientasi kepemilikan harta tidak pada orientasi penikmatan atasnya tetapi berorientasi pada pemanfaatan demi sebuah kebahagiaan sejati.

    Disamping itu tanpa upaya penjagaan secara disiplin kepatuhan pada prinsip-prinsip syariah termasuk nilai-nilai moral Islam, kecenderungan system berikut aplikasi ekonomi – keuangan syariah akan mimicry dengan apa yang ada dalam konvensional. Karena pelaku industri akhirnya hanya concern dengan penyediaan produk dalam rangka pengelolaan kekayaan ataupun likuiditas yang merujuk pada preferensi (lebih berorientasi pada produk halal daripada produk Islami) para pemilik harta. Bahkan pada skala yang lebih luas prilaku penyediaan produk oleh praktisi keuangan syariah di pasar tidak memperhatikan hubungan atau implikasi sector kuangan Syariah terhadap aktifitas dan kinerja perekonomian secara luas. Portfolio-portfolio sebagai produk-produk keuangan syariah yang digunakan dalam pengelolaan kekayaan akhirnya hanya outlet keuangan layaknya konvensional yang semakin memperpanjang labirin uang disektor keuangan yang sedikit saja bermuara pada aktifitas produktif penciptaan barang dan jasa (sebagai esensi tujuan ekonomi Islam). Dengan begitu, at the end of the day, system ekonomi-keuangan Syariah kehilangan karakternya, kabur fungsinya dan tak jelas maksud serta tujuannya.

    Ketidakpedulian praktisi keuangan syariah terhadap substansi prinsip-prinsip keuangan syariah apalagi pada nilai-nilai moral Islami-nya, ditambah dengan tingkat edukasi dan preferensi masyarakat (sebagai pengguna produk-produk keuangan syariah untuk kebutuhan pengelolaan dan perencanaan keuangan keluarga) yang masih rendah, membuat aplikasi ekonomi atau keuangan syariah masih sebatas aplikasi halal saja. Aplikasi ekonomi atau keuangan syariah yang kualitasnya masih sangat rendah. Aplikasi keuangan yang hanya fokus pada aplikasi yang free dari Riba atau judi (spekulasi) hemat saya adalah aplikasi minimum dari praktek ekonomi – keuangan syariah, mungkin kita sebut saja levelnya ada pada aplikasi ekonomi halal, tetapi jika kita ingin praktek ekonomi Islam naik pada level selanjutnya yang lebih tinggi (“aplikasi ekonomi Islami”), etika dan nilai-nilai prilaku ekonomi dalam Islam haruslah mulai diperkenalkan. Prilaku-prilaku seperti mencari harta bukan untuk ditumpuk tapi untuk memperluas kemanfaatan bagi masyarakat khususnya masyarakat dhuafa. Prilaku-prilaku ini adalah prilaku yang berbekal dengan keyakinan pada janji Tuhan bahwa Tuhan akan semakin menambah memperlancar rezeki bagi mereka yang membelanjakan hartanya dijalan Tuhan.

    Semoga kedepan, seiring dengan pembelajaran dan peningkatan keyakinan atau pemahaman terhadap akidah dan akhlak, dilengkapi dengan pengetahuan dan skill Syariah yang memadai, akan muncul manusia-manusia yang mampu memelihara ruh Islam terjaga dalam aplikasi dan pengembangan ekonomi-keuangan Islam. Khusus bagi Islamic Wealth Management atau Islamic Financial Planning, harapannya adalah industri ini menjadi industri yang shaleh, yang memproduksi dan menyebarkan keshalehan dan semakin membentuk serta melayani golongan orang-orang kaya yang shaleh. Bismillah.

    Sumber : http://abiaqsa.blogspot.com

  • Perbankan Syariah: Perkembangan dan Penjelasan

    Fenomena perbankan Syariah
    Dewasa ini bank syariah menjadi salah satu sektor industri yang berkembang pesat di Indonesia. Beberapa fakta pesatnya pertumbuhan perbankan syariah dapat dilihat pada tabel dan grafik di bawah:

    Dana Pihak Ketiga, jumlah dana masyarakat yang ditempatkan di perbankan

    Keterangan Des 05 Des 06 Des 07 Des 08 Des 09 Juni 10
    Bank umum 1,127,937 1,287,102 1,510,834 1,753,292 1,950,712 2,096,036
    Bank syariah 15,581 19,347 28,011 36,852 52,271 58,078
    Market share bank syariah 1.38% 1.50% 1.85% 2.10% 2.68% 2.77%

    Pembiayaan, jumlah dana yang disalurkan perbankan kepada masyarakat

    Pembiayaan Des 05 Des 06 Des 07 Des 08 Des 09 Juni 10
    Bank Umum 695,648 792,297 1,002,012 1,307,688 1,437,930 1,586,492
    Bank Syariah 12,405 16,113 20,717 26,109 34,452 46,260
    Market share bank syariah 1.78% 2.03% 2.07% 2.00% 2.40% 2.92%

    Aset, total kekayaan yang dimiliki perbankan

    Aset Des 05 Des 06 Des 07 Des 08 Des 09 Juni 10
    Bank umum 1,469,827 1,693,850 1,986,501 2,310,557 2,534,106 2,678,265
    Bank syariah 20,880 26,722 33,016 49,555 66,090 75,205
    Market share bank syariah 1.42% 1.58% 1.66% 2.14% 2.61% 2.81%

    DPK, pembiayaan dan aset perbankan syariah tumbuh lebih pesat dibandingkan perbankan umum sehingga market share perbankan syariah terhadap perbankan umum senantiasa meningkat.

    Hal ini ditopang oleh outlet perbankan syariah yang tumbuh pesat

    Jumlah Outlet Des 05 Des 06 Des 07 Des 08 Des 09 Juni 10
    Konvensional 8236 9,110 9,680 10,868 12,837 12,972
    Syariah 434 509 568 790 998 1,302
    Perbandingan 5.27% 5.59% 5.87% 7.27% 7.77% 10.04%

    Selain ekspansi perbankan syariah untuk meningkatkan jumlah outletnya, pertumbuhan outlet yang pesat juga karena maraknya pembukaan bank syariah, baik Bank Umum Syariah (BUS) ataupun Unit Usaha Syariah (UUS).

    Perkembangan ini membuat banyak pihak, mulai pemerintah, akademisi, perusahaan hingga masyarakat mencoba untuk memahami perbankan syariah lebih jauh, mulai dari filosofi, sistem operasional hingga produknya.

    Filosofi perbankan syariah
    Perbankan syariah merupakan bagian dari ekonomi syariah, dimana ekonomi syariah merupakan bagian dari muamalat (hubungan antara manusia dengan manusia). Oleh karena itu, perbankan syariah tidak bisa dilepaskan dari al Qur`an dan as sunnah sebagai sumber hukum Islam. Perbankan syariah juga tidak dapat dilepaskan dari paradigma ekonomi syariah.

    Berikut beberapa paradigma ekonomi syariah:

    1. Tauhid. Dalam pandangan Islam, salah satu misi manusia diciptakan adalah untuk menghambakan diri kepada Allah SWT: ”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (51:56). Pengambaan diri ini merupakan realisasi tauhid seorang hamba kepada Pencipta-Nya. Konsekuensinya, segenap aktivitas ekonomi dapat bernilai ibadah jika diniatkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
    2. Allah SWT sebagai pemilik harta yang hakiki. Prinsip ekonomi syariah memandang bahwa Allah SWT adalah pemilik hakiki dari harta. ” Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi…” (2:284). Manusia hanya mendapatkan titipan harta dari-Nya, sehingga cara mendapatkan dan membelanjakan harta juga harus sesuai dengan aturan dari pemilik hakikinya, yaitu Allah SWT.
    3. Visi global dan jangka panjang. Ekonomi syariah mengajarkan manusia untuk bervisi jauh ke depan dan memikirkan alam secara keseluruhan. Ajaran Islam menganjurkan ummatnya untuk mengejar akhirat yang merupakan kehidupan jangka panjang, tanpa melupakan dunia: ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (28: 77). Risalah Islam yang diturunkan kepada Muhammad SAW pun mengandung rahmat bagi alam semesta: ”Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (23:107). Dengan demikian dalam dimensi waktu, ekonomi syariah mempertimbangkan dampak jangka panjang, bahkan hingga kehidupan setelah dunia (akhirat). Sedangkan dalam dimensi wilayah dan cakupan, manfaat dari ekonomi syariah harus dirasakan bukan hanya oleh manusia, melainkan alam semesta.
    4. Keadilan. Allah SWT telah memerintahkan berbuat adil: ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil” (4: 48). Bahkan, kebencian seseorang terhadap suatu kaum tidak boleh dibiarkan sehingga menjadikan orang tersebut menjadi tidak adil: ”Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (5:8).
    5. Akhlaq mulia. Islam menganjurkan penerapan akhlaq mulia bagi setiap manusia. bahkan Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa: ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (HR. Malik). Termasuk saat mereka beraktivitas dalam ekonomi. Akhlaq mulia semisal ramah, suka menolong, rendah hati, amanah, jujur sangat menopang aktivitas ekonomi tetap sehat. Contoh terbaik dalam akhlaq adalah Muhammad SAW, sehingga Allah SWT memuji beliau: ”Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (68:4). Sebelum diangkat menjadi Rasul, Muhammad sangat dipercaya oleh kaumnya sehingga diberi gelar ’al Amin’ (yang terpercaya). Hasilnya, beliau menjadi pengusaha yang sukses.
    6. Persaudaraan. Islam memandang bahwa setiap orang beriman adalah bersaudara: ”Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara..” (49:10). Konsep persaudaraan mengajarkan agar orang beriman bersikap egaliter, peduli terhadap sesama dan saling tolong menolong. Islam juga mengajarkan agar perbedaan suku dan bangsa bukanlah untuk dijadikan sebagai pertentangan, melainkan sebagai sarana untuk saling mengenal dan memahami: ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (49:13).

    Operasional perbankan syariah
    Perbankan syariah menjalankan fungsi yang sama dengan perbankan konvensional, yaitu sebagai lembaga intermediasi (penyaluran), dari nasabah pemilik dana (shahibul mal) dengan nasabah yang membutuhkan dana. Namun, nasabah dana dalam bank syariah diperlakukan sebagai investor dan/atau penitip dana. Dana tersebut disalurkan perbankan syariah kepada nasabah pembiayaan untuk beragam keperluan, baik produktif (investasi dan modal kerja) maupun konsumtif. Dari pembiayaan tersebut, bank syariah akan memperoleh bagi hasil/marjin yang merupakan pendapatan bagi bank syariah. Jadi, nasabah pembiayaan akan membayar pokok + bagi hasil/marjin kepada bank syariah. Pokok akan dikembalikan sepenuhnya kepada nasabah dana sedangkan bagi hasil/marjin akan dibagi hasilkan antara bank syariah dan nasabah dana, sesuai dengan nisbah yang telah disepakati.
    Artinya dalam bank syariah, dana dari nasabah pendanaan harus di’usahakan’ terlebih dahulu untuk menghasilkan pendapatan. Pendapatan itulah yang akan dibagi hasilkan untuk keuntungan bank syariah dan nasabah dana.

    Skema-skema produk perbankan syariah
    Dalam operasionalnya, bank syariah menggunakan beberapa skema yang bersesuaian dengan syariah sebagaimana dijelaskan sbb.:

    1. Pendanaan/Penghimpunan dana: Wadiah dan mudharabah.
      1. Wadiah (titipan)
      2. Dengan skema wadiah, nasabah menitipkan dananya kepada bank syariah. Nasabah memperkenankan dananya dimanfaatkan oleh bank syariah untuk beragam keperluan (yang sesuai syariah). Namun bila nasabah hendak menarik dana, bank syariah berkewajiban untuk menyediakan dana tersebut. Umumnya skema wadiah digunakan dalam produk giro dan sebagian jenis tabungan.
        BSM menggunakan skema ini untuk BSM Giro, BSM TabunganKu dan BSM Tabungan Simpatik.

      3. Mudharabah (investasi)
      4. Dengan skema mudharabah, nasabah menginvestasikan dananya kepada bank syariah untuk dikelola. Dalam skema ini, BSM berfungsi sebagai manajer investasi bagi nasabah dana. Nasabah mempercayakan pengelolaan dana tersebut untuk keperluan bisnis yang menguntungkan (dan sesuai syariah). Hasil keuntungan dari bisnis tersebut akan dibagi hasilkan antara nasabah dana dengan BSM sesuai nisbah yang telah disepakai di muka.
        BSM menggunakan skema ini untuk BSM Deposito, Tabungan BSM, BSM Tabungan Berencana, BSM Tabungan Mabrur, BSM Tabungan Investa Cendekia dan BSM Tabungan Kurban.

    2. Pembiayaan/Penyaluran dana: Murabahah, ijarah, istishna, mudharabah, musyarakah dsb.
      1. Murabahah
      2. Merupakan akad jual beli antara nasabah dengan bank syariah. Bank syariah akan membeli barang kebutuhan nasabah untuk kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah dengan marjin yang telah disepakati. Harga jual (pokok pembiayaan + marjin) tersebut akan dicicil setiap bulan selama jangka waktu yang disepakati antara nasabah dengan bank syariah. Karena harga jual sudah disepakati di muka, maka angsuran nasabah bersifat tetap selama jangka waktu pembiayaan.
        Hampir seluruh pembiayaan konsumtif BSM (BSM Griya, BSM Oto) menggunakan skema ini. Skema ini juga banyak dipergunakan BSM dalam pembiayaan modal kerja atau investasi yang berbentuk barang. Sekitar 70% pembiayaan bank syariah menggunakan skema murabahah.

      3. Ijarah
      4. Merupakan akad sewa antara nasabah dengan bank syariah. Bank syariah membiayai kebutuhan jasa atau manfaat suatu barang untuk kemudian disewakan kepada nasabah. Umumnya, nasabah membayar sewa ke bank syariah setiap bulan dengan besaran yang telah disepakati di muka.
        BSM mengaplikasikan skema ini pada BSM Pembiayaan Eduka (pembiayaan untuk kuliah) dan BSM Pembiayaan Umrah. Beberapa pembiayaan investasi juga menggunakan skema ijarah, khususnya skema ijarah muntahiya bit tamlik (IMBT).

      5. Istishna
      6. Merupakan akad jual beli antara nasabah dengan bank syariah, namun barang yang hendak dibeli sedang dalam proses pembuatan. Bank syariah membiayai pembuatan barang tersebut dan mendapatkan pembayaran dari nasabah sebesar pembiayaan barang ditambah dengan marjin keuntungan. Pembayaran angsuran pokok dan marjin kepada bank syariah tidak sekaligus pada akhir periode, melainkan dicicil sesuai dengan kesepakatan. Umumnya bank syariah memanfaatkan skema ini untuk pembiayaan konstruksi.

      7. Mudharabah
      8. Merupakan akad berbasis bagi hasil, dimana bank syariah menanggung sepenuhnya kebutuhan modal usaha/investasi.

      9. Musyarakah
      10. Merupakan akad berbasis bagi hasil, dimana bank syariah tidak menanggung sepenuhnya kebutuhan modal usaha/investasi (biasanya sekitar 70 s.d. 80%).

      11. Lainnya
    3. Jasa: Wakalah, rahn, kafalah, sharf dsb.
      1. Wakalah
      2. Wakalah berarti perwalian/perwakilan. Artinya BSM bekerja untuk mewakili nasabah dalam melakukan suatu hal. BSM mengaplikasikan skema ini pada beragam layanannya semisal transfer uang, L/C, SKBDN dsb.

      3. Rahn
      4. Rahn bermakna gadai. Artinya bank syariah meminjamkan uang (qardh) kepada nasabah dengan jaminan yang dititipkan nasabah ke bank syariah. Bank syariah memungut biaya penitipan jaminan tersebut untuk menutup biaya dan keuntungan bank syariah.
        BSM mengaplikasikan skema ini pada BSM Gadai Emas iB.

      5. Kafalah
      6. Dengan skema kafalah, bank syariah menjamin nasabahnya. Bila terjadi sesuatu dengan nasabah, bank syariah akan bertanggung jawab kepada pihak ke-3 sesuai kesepakatan awal.
        BSM mengaplikasikan skema ini pada produk BSM Bank Garansi.

      7. Sharf
      8. Merupakan jasa penukaran uang. BSM mengaplikasikan skema ini untuk layanan penukaran uang Rupiah dengan mata uang negara lain, semisal US$, Malaysia Ringgit, Japan Yen dsb.

      9. Lainnya
    4. Perbedaan bank syariah dengan bank konvensional
    5. Beberapa kalangan masyarakat masih mempertanyakan perbedaan antara bank syariah dengan konvensional. Bahkan ada sebagian masyarakat yang menganggap bank syariah hanya trik kamuflase untuk menggaet bisnis dari kalangan muslim segmen emosional. Sebenarnya cukup banyak perbedaan antara bank syariah dengan bank konvensional, mulai dari tataran paradigma, operasional, organisasi hingga produk dan skema yang ditawarkan. Paradigma bank syariah sesuai dengan ekonomi syariah yang telah dijelaskan di muka. Sedangkan perbedaan lainnya adalah sbb.:

      Jenis perbedaan Bank syariah Bank konvensional
      Landasan hukum Al Qur`an & as Sunnah + Hukum positif Hukum positif
      Basis operasional Bagi hasil Bunga
      Skema produk Berdasarkan syariah, semisal mudharabah, wadiah, murabahah, musyarakah dsb Bunga
      Perlakuan terhadap Dana Masyarakat Dana masyarakat merupakan titipan/investasi yang baru mendapatkan hasil bila diputar/di’usahakan’ terlebih dahulu Dana masyarakat merupakan simpanan yang harus dibayar bunganya saat jatuh tempo
      Sektor penyaluran dana Harus yang halal Tidak memperhatikan halal/haram
      Organisasi Harus ada DPS (Dewan Pengawas Syariah) Tidak ada DPS
      Perlakuan Akuntansi Accrual dan cash basis (untuk bagi hasil) Accrual basis

      Terdapat perbedaan pula antara bagi hasil dan bunga bank, yaitu sbb.:

      Bunga Bagi hasil
      Suku bunga ditentukan di muka Nisbah bagi hasil ditentukan di muka
      Bunga diaplikasikan pada pokok pinjaman (untuk kredit) Nisbah bagi hasil diaplikasikan pada pendapatan yang diperoleh nasabah pembiayaan
      Suku bunga dapat berubah sewaktu-waktu secara sepihak oleh bank Nisbah bagi hasil dapat berubah bila disepakati kedua belah pihak
    6. FQA (Frequent Question & Answer)
      1. Bolehkah non muslim menjadi nasabah bank syariah?
      2. Boleh. Semangat syariah adalah rahmat bagi alam semesta, sebagaimana tertuang dalam al Qur`an: ”Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta” (21:107). Dengan demikian, layanan perbankan syariah dapat dinikmati oleh muslim dan non muslim.

      3. Saya mendapatkan pembiayaan dari bank syariah, tapi ternyata angsuran yang harus saya bayar lebih mahal dibandingkan bank konvensional. Apakah ini sesuai syariah?
      4. Aspek harga sebenarnya bukan merupakan wilayah syariah, melainkan wilayah bisnis. Maksudnya, penetapan harga suatu produk berdasarkan pertimbangan bisnis, yaitu supply, demand dan value yang diterima/dipersepsi oleh nasabah. Begitu pula dalam penetapan harga pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah, memperhatikan supply, demand dan value untuk nasabah. Dalam praktiknya, terkadang suatu produk pembiayaan bank syariah lebih mahal dibandingkan bank konvensional, sedangkan produk pembiayaan lainnya lebih murah. Produk pembiayaan antara suatu bank syariah dengan bank syariah lainnya juga beragam.

      5. Saat ini bank syariah marak memberikan program undian kepada nasabah, khususnya nasabah pendanaan. Bukankah undian termasuk dalam kategori perjudian?
      6. Undian merupakan alat/instrumen yang bisa bernilai positif ataupun negatif (termasuk judi). Praktik undian yang diselenggarakan bank syariah bukan termasuk judi, karena nasabah tidak dipungut biaya apapun untuk mengikuti undian tersebut. Oleh karenanya, bank syariah diperbolehkan melakukan undian tersebut.

  • Priority Service in Sharia Perspective

    Priority Service in Sharia Perspective

    Man was created by Allah SWT in different conditions: black, white, rich, poor and so forth. Difference is also in racial and ancestral groups. Diversity of man holds at least three purposes: (1) to know each other; (2)  to race for goodness; and (3) to test one upon another.

    Allah SWT says (translation), “O people, we created you from the same male and female, and rendered you distinct peoples and tribes, that you may recognize one another.” (QS al-Hujurāt/49:13.) “Had Allah willed, He could have made you one congregation. But He thus puts you to the test through the revelations He has given each of you. You shall compete in righteousness.” (QS al-Māidah/5: 48.) “He is the One who made you inheritors of the earth, and He raised some of you above others in rank, in order to test you in accordance with what He has given you. (QS al-An`ām/6: 165).

    No correlation is found between physical differences among people  and judgment by Allah. In essence, all human beings are ranked by the same judgment. Man is judged by the faith deep in heart that is translated into righteous deeds.

    Prophet SAW reminds us that:

    إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

    “Allah does not judge you according to your appearance and your wealth, but He looks at your hearts and looks into your deeds “ (Narrated in Saheeh Bukhari Muslim, #2564).

    Allah SWT says (translated):”The best among you in the sight of Allah is the most righteous.” (QS al-Hujurāt/49:13).

    Accordingly, in line with the above-quoted religious sayings,  in principle every sharia bank customer  deserves equal treatment. All customers deserve excellence services in harmony with Quran teachings: “Be charitable, as Allah has been charitable towards you.” (QS al-Qashshash/28:77).

    However, it does not necessarily mean that sharia banks are permissible to provide extra services for customers who render extra contribution, especially in term of significant placement of fund at certain nominal amounts. They are amicably classified as Priority Customers. Extra services (more commonly termed as Priority Service) are not in the contrary to the principle of  fairness to which  sharia banking is committed. For sure, fairness is not always identical with equality. By definition, fairness is wadh` al-syai’ fi mahallih, to treat something in line with its portion or position.

    A difference in treatment is just a daily axiom. Our treatments to parents are of course difference from those to children; the way we treat our spouse is difference from the way we treat our friends; and so forth. Different treatments are adjusted to the ongoing situations and conditions that are not identical with unfairness or wrongdoings.

    In addition, Islam appreciates people by their contribution. Contribution is part of righteous deed, and such a deed is the decisive factor for positioning someone, just as mentioned in the above-quoted hadith. In the Khaibar battle, upon distributing the battle booties, Prophet SAW gave three shares to the on-horseback soldier and one share to the on-foot soldier. Two of the three shares for the horseback soldiers were given to the horse keepers and one for the horse owner. (HR Ibn Mājah in the Sunan II/952/ 2854, Ibn Hibban in the Shahīh XI/142/4814, and other valid hadiths). The bigger portion of booties for the horseback soldiers than that for the on-foot soldier is attributable to the bigger contribution of the horseback solders in winning the battle compared to the on-foot soldiers. This is fair.

    So is the case with the Priority Customers. Their contribution to the development of sharia banking is surely bigger than ordinary depositors, by placement a bigger amount of fund. Accordingly, based on the magnitude of contribution,  they deserve higher benefits than ordinary depositors do. WaLlāhu a`lam bish-shawāb.

  • Get prepared for the future by Saving

    Nobody knows exactly what will happen in the future. “With Allah is the knowledge about the Hour (end of the world). He is the One who sends down the rain, and He knows the contents of the womb. No soul knows what will happen to it tomorrow, and no one knows in which land he or she will die. Allah is Omniscient, Cognizant.” (QS Luqmāan/31: 34.) However, we are asked for making good plans in anticipation for what may happen.  “O you who believe, you shall reverence Allah, and let every soul examine what it has sent ahead for tomorrow. You shall reverence Allah; Allah is fully Cognizant of everything you do”. (QS al-Hasyr/59: 18.)

    Saving represents a planning and anticipatory action toward unexpected happenings in the future. Quran offers endorsement to saving action as is described in a story about Prophet Nuh AS: He said, “What you cultivate during the next seven years, when the time of harvest comes, leave the grains in their spikes, except for what you eat.  After that, seven years of drought will come, which will consume most of what you stored for them.(QS Yūsuf/12: 47-48.)
    Islam calls everyone for  preparing adequate reserve for the family before leaving the family bereaved. This verse implicitly leaves a message about the urgency for saving.  Prophet SAW said to Sa`d ibn Abī Waqqāsh,

    إِنَّكَ إِنْ تَدَعُ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالةً يَتَكَفَّفُوْنَ النَّاسَ فِي أَيْدِيْهِمْ

    Indeed, you are leaving your heirs in richness is better than leaving them in poverty with a need for a helping hand.” (HR al-Bukhāri in Shahīh-nya III/106/2591 and Muslim in Shahīh-nya III/1250/1628.)
    Saving acts like one balancing pole to a diametrically related pole for alms. Undoubtedly, saving is an action of  holding own assets that is religiously discouraged, while giving alms is religiously encouraged. Many religious texts talk about this topic, one of them is quoted from statement by Prophet SAW:

    مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

    “Not even a single day two angels would miss  descending down in the morning to oversee every man. One of them said: O Allah,  grant the alms giver due  substitution. Meanwhile another one said: “O Allah, destroy the riches of the man who holds his riches’” (HR al-Bukhāri in Shahīh-nya II/522/1374 and Muslim in Shahīh-nya II/700/1010.)

    Correspondingly, religious texts on the topics of  alms and saving — just as partly described above—should be positioned comprehensively and proportionally. Alms over-giving  without due consideration on the priority scale is not encouraged. Quran  teaches people not to be tight-handed and at the same time Quran teaches people not to be over-giving. Allah SWT said:  “You shall not keep your hand stingily tied to your neck, nor shall you foolishly open it up, lest you end up blamed and sorry. “ (QS al-Isrā’/17: 29.)

    The best position is in the middle. This is a universal  value. For this reason, a  main in faith is encouraged to take the best position, and in this case the position is a balance between alms giving and saving. On one side, saving denotes to a plan for the future of  own life along with the family , and on another side, alms giving represents responsibility on social environment. No contradiction is found in between. Both can go simultaneously. WaLlāhu a`lam bish shawāb.

  • Women’s Financial Role in the Family

    A characteristic as well as principle upheld by Islam is egalitarianism: man egalitarianism before the Almighty irrespective of gender, care and ancestry.  The only differentiator is the level of  faithfulness to Allah and helpfulness to fellow human beings (QS al-Hujurāt/49: 13 and QS an-Nahl/16: 97.)

    Islamic  teachings say that every man is a leader, only  the domain and authority that make them different leaders.  Prophet SAW  said,

    كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

    Everyone of you is  a leader and everyone will be liable for responsibility on leadership. An imam is a leader and will be liable for responsibility on leadership;  a man is the leader of his family and will be liable for responsibility on his leadership; a woman is a leader of  her husband’s house (affairs) and will be liable for her responsibility on leadership.” (HR al-Bukhāri in Shahīh-nya I/304/853 and Muslim in Shahīh- III/1549/1829.)

    Undeniably, men and women by their biological structure  and characters are different. This difference allows for assuming roles pursuant to respective natural condition so as to complement each other. If each individual plays the same role, the whole community will be ‘invalid’. Within every communal structure or organization, there must be a leader and followers; and it is impossible all followers become leaders of  the same group; there must be a leader and followers. This is sunnatullāh.

    In the family, Islam authorizes the man to be the family leader, as narrated in the above-mentioned hadits (and also QS al-Nisā’/4: 34). Leadership requires men to be responsible on the family income. But this leadership does not  deny the rights of  the wife  in various aspects, especially in the ownership and management of personal assets . The hadith says that one of women’s responsibilities is managing her husband household affairs, including family financial management.

    Delving into women’s managerial involvement in the early age of Islam, it is no exaggeration to say that Islam supports them to be active in various activities. Women are allowed to work at home and outdoor  as far as the work is: (1) not against female nature; (2) not involving religiously prohibited activities; and (3) not making her overlooking main duties in the family;

    In sum, a conclusion can be drawn that “women are rightful to work, as far as the work need them and/or they need the work”.

    Women’s works and activities during the era of  Prophet SAW varied quite widely,  including participation at war. Ummu Salamah (wife of Prophet SAW), Shāfiyyah, Lailā al-Ghiffāriyyah, Ummu Sinām, and others are among the female warriors. Hadith narrators such as al-Bukhāri noted in a several chapters of his shahih (ratified) hadith books about women activities such as the Chapter on Women Involvement in Jihad, Chapter on Women’s Offshore Battle; Chapter on Women’s Involvement in Treatments on Victims, etc.

    Women were also actively involved in trading activities such as the first wife of  Prophet SAW, Khadijah binti Khuwailid, was a successful trader. Another wife of  Prophet SAW, Zainab binti Jahsy did hide tanning business and apportioned much of the profit for alms. Rāithah, wife of `Abdullāh ibn Mas’ūd, a friend of Prophet SAW, actively worked for helping her husband making the ends meet. Meanwhile, Ummu Sālim binti Malhān worked as a wedding make-up businesswoman. Khalīfah `Umar ibn al-Khaththāb RA once assigned al-Syifā’, a woman good at writing, to help manage the  Medina market. In many other exemplary cases, Islam has since its early age, affirmed that women are rightful for working and earning income on the above-mentioned conditions. Wallāhu a`lam bish-shawāb.*

    *) Rewritten from various sources.

  • Rejoicing the Process

    Targets are achieved through processes. Ideals are attained through struggles. Rainbow’s appearance begins with raindrops. Every consequence has its own root cause. Everything on the earth where man lives works in the way Allah has disposed it.

    Many say that enjoyment is earned upon goal accomplishment, while efforts and struggles towards the goal is the phase of difficulties and agony. But a few selected people claim the enjoyment rests on the process of struggles, and goal accomplishment is continued enjoyment. It’s not about the destination it’s about the journey, says the Harley Davidson slogan.

    In a religious poem narrated to Imam asy-Syāfi’i is said:

    سَافِرْ تَجِدْ عِوَضاً عَمَّن تُفَارِقه

    وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيْذَ الْعَيْشِ فِي النَّصبِ

    Make your journey as replacement will come to what you have left,

    and make your earnest struggle, as life enjoyment is earned within tiredness..

    As narrated by Abū Hurairah, Prophet SAW said

    وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوَدَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَأُقْتَلَ ثُمَّ أَغْزُوَ فَأُقْتَلَ ثُمَّ أَغْزُوَ فَأُقْتَلَ

    By the Almighty with the soul of Muhammad on His hand. Verily, I wish to go war on the Way of Allah and then get killed, and I go to war and get killed, and I go to war and get killed again.” [Narrated by Muslim III/1495/1876.]

    Narrated by Anas ibn Mālik, Prophet SAW also said,

    مَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَسُرُّهُ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا غَيْر الشَّهِيْدِ فَإِنَّهُ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا، يَقُوْلُ: حَتَّى أُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ فِي سَبِيْلِ اللهِ، مِمَّا يَرَى مِمَّا أعْطَاهُ مِنَ الْكَرَامَةِ

    “Not even one man among heaven inhabitants wishes to leave back for the world except the man who died of war on the way of Allah. He wants to be back to the world while saying, ‘Until I get killed ten times on the way of Allah’. He wants it because he has seen a portion of rewards Allah has granted to him.” [Narrated by al-Bukhāri III/1037/2662, at-Tirmidzi IV/187/1661, and others. The above-quoted narration is from at-Tirmidzi.]

    True enjoyment is therefore earned not only after death on the way of Allah but also in the process of getting killed on the way of Allah in the forms of battle, injury and death with indescribable enjoyment.

    This is also affirmed by a verse in the al-Qur’an that is often read and learnt  by most Moslems as follows:

    أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ * وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ * ٱلَّذِيۤ أَنقَضَ ظَهْرَكَ * وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ * فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْراً * إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْراً * فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ * وَإِلَىٰ رَبكَ فَٱرْغَبْ

    “Did we not cool your temper?. And we unloaded your load (of sins). . One that burdened your back. . We exalted you to an honorable position.  With pain there is gain. Indeed, with pain there is gain. Whenever possible you shall strive. Seeking only your Lord.“ [QS. Asy-Syarh (94): 1 – 8.]

    The surah (chapter) firstly describes a sense of  gratefulness,  representing the highest enjoyment, and is closed with a call for optimal struggle accompanied with prayers to Allah. By combining the start and the end of  the surah, a conclusion can be drawn that understanding on enjoyment rests on an optimal struggle or hard work.

    The way we think about the process and struggle,  either as an enjoyment or agony, struggle remains an obligation that will bring in a more compelling need if the obligation is postponed or ignored. Anyone who is unwilling to work hard during younger age will have to pay back through harder work in older age. Students unwilling to study regularly everyday will have to study harder during test session or have to risk a failure. That is how causal correlation works in life.

  • SPIRIT

    The soul can live up with spirit and passion on one time, but on another time it is filled with laziness and tiredness. Both diametrically opposed  poles are looming along our life and interchangeably dominate the lifeline. As if a weighing scale, when one side moves down, another side will move up; if one within emerges, another thing will submerge.

    Spirit acts like water that flows the roots of life and at the same time like fire that heats up competition. It is also like clouds in the sky that may form a large group to produce raindrops that may either generate rain or get flown away by strong  wind. Likewise, spirit can flame up and fade down and may flame up in presence of triggers in the form of benefits, rewards, positions etc.

    A pious Moslem should consistently keep the spirit for positive things. Prophet Nabi s.a.w. said,

    الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ

    A Moslem of strong character is better and loved more by Allah than a Moslem of weak character, although there’s goodness in both. Keep your spirit for everything beneficial and pray for help from Allah, and never keep weak character.” [narrated by Muslim in Shahīh-nya IV/2052/2664.]

    At least there are two points every Moslem must keep, consisting of  true knowledge  and real action. Spirit without real actions is life a fruitless tree. Lack of true knowledge is like sailing without destinations, it may reach somewhere but risking natural disasters. Lack of true knowledge will lead to wrong consequences. One may think of doing an improvement, but unknowingly he is making destruction. Ibn Mas`ūd r.a. said, “Many people expect goodness but can not get it.” [Narrated by ad-Dārimi in Sunan I/79/204.]

    Every high achiever must have high expectation and high spirit. In reality, there is no opposite consequence to this matter. Every Moslem is taught to  grow spirit for becoming a high achiever —of course in line with Islamic perspectives, and not materialism and worldly perspectives. Moslem people are also encouraged to achieve their best. al-Qur’an teaches us to pray for becoming an imam/leader for faithful people [QS. Al-Furqān: 74]. It is thus not enough to be pious, but must be a pious leader. Prophet s.a.w. has also taught us to beg for Firdaus, the highest and well as the central heaven below `Arsy Allah [Narrated by al-Bukhāri III/1028/2637 and others]. Heaven is expected, but the best heaven is preferred.

    Those with high spirit and high expectations will be unwilling to care for  anything with low respect and trivial. They are concerned  with things noble and eternal. The higher the wisdom a man possess, the higher is the spirit for gaining things of higher respect. `Umar ibn `Abd al-`Aziz, a pious khalīfah (the highest position in an Islamic government system) from Banī Umayyah, described about himself, “My soul is filled up with passion and ambition (nafs tawwāqah). Nothing will I get if I have no high ambition. My passion was on power, and then I managed to become governor of Medina. And then my passion is for becoming a khalīfah, and when my passion is get realized, finally I want things more than everything I have reached, and that is heaven..” [See Hilyah al-Auliyā’ V/331-332 and al-Mudhisy page 228.]

    High spirit leads to extraordinary and tiring hard work. An Arab poet, al-Mutanabbi, said in a poem,

    وَإِذَا كَانَت النُّفُوْسُ كِبَارًا

    تَعِبَتْ فِي مُرَادِهَا الْأَجْسَامُ

    And if soul is big,

    Then the body will be tired of embracing it. [Khizānah al-Adab, I/251.]

    Spirit, science and struggle for the highest goal, i.e. His blessings (including heaven with all its rewards) are not solely expressed through ritual activities.  Not less important are social activities as manifestation of man’s function in making the earth of Allah prosperous (khalīfah fi’l ardh).  Just as described by a popular hadith, Prophet s.a.w. said, “The best of man is the one who does the most for fellow man’s benefits.” [Narrated by ath-Thabrani in  al-Ausath VI/58 and other valid narrations.]

  • Age and Work

    What age means. It’s nothing more than a number, and it does not represent something special. It only denotes the number of days a man has passed by while accompanying the earth rotating around the sun.

    Islam does not teach the worshipping on age. Islam calls the younger for respecting the older, in line with the prevailing traditional ethics. Islam respects age only when it is productive and serves as the medium of performance and products. Islam appreciates performance instead of prestige. In sum, Islamic teachings positions professionalism parameters far above seniority. What Prophet SAW did on educating early generations of Moslem could be a guiding point.

    In the 11th year of Hijrah, after performing the haji wadā` (farewell), Prophet SWA appointed 20-years old Usāmah ibn Zaid to lead the Moslem warriors for expansion to  the Syām region that was under the colony of  Roman Empire. Surprisingly, there were many more senior friends of the Prophet.

    However, when the warriors were getting prepared for  starting the mission, Prophet SAW fell ill seriously that lead to his death. The mission was postponed.

    Not long after the death of Prophet SAW, Abu Bakr ash-Shiddīq r.a. was elected Khalifah,  and he continued what had been initiated by Prophet SAW, i.e. seeing off Usamāh  and his warriors to fight against the Roman.

    Still in grief and instability due to the death of  the Prophet, some of the Anshār community considered that it was not the right moment to depart for  the mission. Soon they requested `Umar  r.a. to discuss the idea with Abū Bakr. They proposed two ideas: postponement of the mission or the chief warrior be replaced by a leader more senior  than Usāmah, considering that he was too young and inexperienced.

    `Umar described the proposal to Abū Bakr. Upon hearing it, Abū Bakr got angry and shouted, “It’s sinful, my friend Ibn al-Khaththāb!  It is Prophet SAW  who appointed him to be the leader, but you want me to discharge him?!  By Allah, I will never ignore the message and decision of Prophet SAW.” `Umar  felt sorry for the proposal.

    Prophet SAW would  never appoint Usāmah ibn Zaid without reasoning. Integrity and competency of Usāmah had  made  Prophet SAW  willing to appoint him leader of the warriors at his early age. The choice by Prophet SAW  was accurate. Usāmah and his warriors succeeded to earn victory against the powerful Roman Empire. So successful was the mission that it was said no other warriors returned with more ghanīmah (booty)  than Usāmah warriors. [See Shuwar min Hayah ash-Shahābah, pages . 226-228.]

    Such a historic reference simply shows that Islam eliminates seniority system that is based solely on age, and replaces it with integrity and competency-based system for  accomplishing an assignment. A lot more historic milestones are recorded in the history of Islamic civilization that will be too long to be detailed here.

    However,  it does not necessarily mean that  Islamic teachings do not respect age and seniority due to different parameters that put priority on competency. To be an imam shalat, for instance,  in case of many candidates with equal competency and integrity, the most rightful candidate will be the most senior one, based on seniority and age just as described in a valid hadith.

    And old man whose age is filled up with achievements and goodness, this is goodness above goodness. And if  an old man whose age is filled up with sinful records, then it is multifold sinfulness.

    Prophet SAW said:

    خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

    The best of man is one with longer age and more virtue. And the worst of man, is one with longer age and more sinful behavior.” [Narrated by at-Tirmidzi IV/556/2330 and other valid narrations.]

  • Contemplation (Muhāsabah)

    Contemplation is becoming a luxury in this era of  speed. Cyberspace that makes distance shorter and everything running faster, seem to shrink the time box into almost nil.

    Contemplation is different from daydreaming. Contemplation is productive,  by investing time on deep thinking  for achievement of continuous improvement in the future. From contemplation does emerges , a breakthrough and solution on various problems. Daydreaming is consumptive,  spending and wasting time on useless things. In a hadith nabawi, daydreaming is called thūlu’l amal (long imagination).

    Islam encourages contemplation. In many teachings are found appeals for contemplation and thinking about His verses either those in the Holly Book or in the Hadith as well as His creations throughout the universe. Contemplation is one of blissful lesson from midnight wake-up for prayers (including shalat Tahajjud) because midnight time is the best moment for contemplation and clear thinking.

    In a more limited sense,  contemplation is termed as muhāsabah. By etymology, muhāsabah derives from  the alphabets h s b associated to calculation. The meaning is muhāsabah more or less is making a calculation about one-self conditions and weaknesses in the past to be corrected and improved in the future before the coming up of  the ultimate calculation by Allah in the Doomsday. In Indonesian language, muhāsabah is often termed as introspeksi.

    It was narrated that `Umar ibn al-Khaththab r.a. said,

    حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا

    “Make calculations of yourself before you are being calculated (by Allah).” [Narrated by Ibn Abī Syaibah in al-Mushannaf VII/96/34459. Several hadith experts doubted the narration validity. However, undboutedly the meanings are acceptable.]

    Honestly counting own mistakes and weaknesses is not easy, because man is often overpowered by personal passions and subjetivity. It’s easy for those who are aware of own inferiority before  the Almighty.

    At least there are five  points to be counted, just as mentioned in a hadith of Prophet SAW as follows

    لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنُ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلُ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاه، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَ أَبْلاَه، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

    “Won’t feet of a man move forward in the Doomsday until he answers five questions: (1) about his age, what is it for; (2) about young age, what is it spent on; (3) about assets, how he gets them, (4) what he use the assets for; and (5) what he has done for everything he knows about.” [Narrated by at-Tirmidzi IV/612/2416 and others.]

    Of course we are not prohibited to think and make calculations about worldly thins just as Allah has said::

    وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

    “And seek, through that which Allah has given you, the home of the Hereafter; and [yet], do not forget your share of the world. And do good as Allah has done good to you.” [QS. Al-Qashash (28): 77.]

    Ages, months and years countinuously changes. The past is consisting of particles of human body that are left behind the changes. Imam al-Hasan al-Bashri said,

    ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمُ ذَهَبَ بَعْضُكَ

    “O Adam descendants, verily,  you are countable days. If one day passes by, so does a part of you.” [Hilyah al-Auliyā' II/148.]

    To conclude, may we can calculate and contemplate on the trails of time we have left behind to improve our future.

  • ALMS, ASSET IN LIFE AND AFTERLIFE

    Allah `Azza wa Jalla said:

    مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

    ” The example of those who spend their monies in the cause of Allah is that of a grain that produces seven spikes, with a hundred grains in each spike. Allah multiplies this manifold for whomever He wills. Allah is Bounteous, Knower. (QS. Al-Baqarah [2]: 261.)

    That’s how Allah motivates His worshippers to spend their assets on the way of Allah,  on everything He permits. This verse encompasses spending of assets on obligatory alms such as zakat, on sunah (voluntary) alms such as infaq and sedekah  where every one time of alms  will be rewarded with seven hundred times.

    Narrated by Abu Hurairah, Prophet SAW said

    مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

    “Alms giving does not lessen assets.” [Narrated by Muslim in Shahīh- IV/2001/2588, and others.]

    Prophet SAW also said

    مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

    “Not even a single day two angels would miss  descending down in the morning to oversee every man. One of them said: O Allah,  grant the alms giver due  substitution. Meanwhile another one said: “O Allah, destroy the riches of the man who holds his riches’” (HR al-Bukhāri in Shahīh-nya II/522/1374 and Muslim in Shahīh-nya II/700/1010.)

    Under Islamic concepts, the spending of assets on various ways of Allah is considered as earning asset and investment that are surely advantageous materially and morally, in life and in the afterlife; and is neither liability nor asset depleting cost. Even it will be a loss to hold assets. In general Moslem people understand this concept, the only issue rests on weakness of aqidah, making the knowledge just as knowledge, without producing a real action.

    Such an Islamic concept might be hard to accept — even harder to appreciate and put it in practice— for those adherents of materialism, assets worshippers who adopt mathematical and short time thinking. The problem is that such materialistic thoughts continuously affect Moslem people in line with the thriving hedonistic culture.

    Allah does not need assets of His worshippers, because He is the Rich, even He is the Giver. It is man who is in need of assets and helps from fellow man pursuant to his existence as social creature (homo homini socious). Poor people need helping hands from the haves.

    In this country,  the needy and the poor are living everywhere. On 26 August 2008 Finance Minister Coordinating Minister for Economy Sri Mulyani  stated in a plenary meeting the House of Parliament reported that  the number of Indonesian people living below the poverty line in March 2008  was 34.96 million or 15.42%. Such a high percentage of poor people means a vast opportunity for the haves to share their assets through alms for growing assts in life and the afterlife.

    Narrated by Ibn `Abbas: “Rasulullah s.a. is the most benevolent man in goodness, and he is the most benevolent during the month of Ramadhan.” [Narrated by al-Bukhari in Shahīh II/672/1803 and Muslim in Shahīh IV/1803/2308.]

  • Tawakkal

    In living up the dynamics of life with uncertainties and difficulties, man is a weak creature in need of self-submission to Allah the Rich, the Almighty. The Strong and The Omnipresent. For a Moslem, such a self-submission only to Allah Ta`ālā is through a mechanism called tawakkal.

    By etymology, tawakkal derives from alphabets w k l that are associated to submission or delegation of an issue to another party. By terminology, tawakkal means total self-submission  to Allah Ta`ālā in the issue of benefit achievement and/or denial of  losses, either on worldly or afterlife issues. Al-Jurjāni, linguist said that tawakkal is ultimate trust (tsiqah)  on what Allah disposes and feel despair on everything held by man. [See Mausū`ah Nadhrah an-Na`īm, vol. IV, page  1377.]

    Tawakkal is part of human being needs and is one of His ordains, just as  Allah Ta`ālā said,

    وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلاً

    And put your trust in Allah. Allah suffices as an advocate” .” [QS. Al-Ahzāb (33): 3.]

    One of Divine Names (al-asmā’ al-husnā ) of Allah Ta`ālā is al-Wakīl (The Advocate), as mentioned above, is the Oneness to which all issues be trusted, because He is the Almighty.

    Tawakkal is the key to blessings as well as a solution to various problems. As narrated by `Umar ibn al-Khaththāb r.a., Prophet SAW said,

    لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خماَصًا وَتَرُوْحُ بطَاناً

    “Verily, should you be on self-submission to Allah, you will be blessed like the birds are.  They leave in the morning in hunger, and return in the afternoon in satisfaction.” [Narrated by at-Tirmidzi IV/573/2344, Ibn Mājah II/1394/4164, Ahmad I/30/205 and others.]

    Allah Ta`ālā said ,

    وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

    ““And will provide for him whence he never expected. Anyone who trusts in Allah, He suffices him. [QS. Ath-Thalāq (65): 3.] 65:3].

    A prayer often raised by Prophet Ibrahim while in difficulty as he was thrown away to the fire is: “Hasbunā’Llāhu wa ni`ma’l wakīl” (Allah is enough for us because He is the Ultimate Advocate for us). [Narrated by al-Bukhari ]

    To realize tawakkal does not mean to deny struggle. Tawakkal is an inner action by heart that support physical actions. Imam Ahmad said, “In the above hadith, there is no indication of allowing for denying struggles. On the contrary, the hadith  indicates the need for seeking income. Accordingly, the hadith may be interpreted as an instruction to man for self-submission to Allah upon leaving and coming for income, because the rizki lies on His hand. Of course, those who leave will not come back safely without results on hand  just like the birds do.” [Tuhfah al-Ahwadzi, vol. VII, page . 8.]

    As narrated by Anas ibn Mālik r.a., once a question was raised to Prophet SAW: “ O Rasulullah, should I tie my carrier animal and I do tawakkal, or I release my animal and I  do tawakkal??”  Prophet SAW answered:

    اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

    “Tie your carrier animal and do tawakkal.” [Narrated by at-Tirmidzi IV/668/2517 and retold by al-Albāni in Shahīh al-Jāmi` no. 1068.]