For Noble Civilization

Layanan 24 jam

News

BI Mengkaji Dua Aturan Baru Bank Syariah

 

Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI) tengah mengkaji dua kebijakan baru guna mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan pembiayaan syariah. Rencananya, BI akan mensosisialisasikan aturan ini mulai Juni 2010 ini. Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI, Mulya Effendi Siregar, mengatakan kebijakan pertama yang dikaji adalah restrukturisasi pembiayaan. Dalam kebijakan baru ini, BI bakal membolehkan bank syariah merestrukturisasi pembiayaan pada kolektibilitas 1 (lancar). Asalkan, prospek pembiayaan tersebut tidak membahayakan bank.

Dalam aturan sebelumnya, bank baru bisa melakukan restrukturisasi jika pembiayaan tersebut sudah masuk dalam kolektibilitas 3 (kurang lancar). “Aturan ini akan membuat bank syariah lebih ringan menyediakan Pencadangan Penghapusan Aktiva (PPA),” ujar Mulya, akhir pekan lalu.

Aturan kedua yang dikaji BI adalah penentuan kualitas aktiva produktif untuk transaksi mudarabah dan musyarakah akan lebih fleksibel. Maksudnya, penentuan kolektibilitas pembiayaan mudarabah dan musyarakah, menggunakan perhitungan realisasi pendapatan dibagi perencanaan pendapatan.

Saat ini, bila realisasi pendapatan dibandingkan rencana pendapatan lebih besar atau sama dengan 80%, maka akan masuk kategori lancar. “Menurut teman-teman di perbankan syariah, angka 80% terlalu tinggi. Mereka minta diturunkan menjadi 60% atau 70%,” jelasnya

Nah, BI sedang mengkaji usulan tersebut, karena akad mudarabah tidak sama seperti kredit konsumsi. “Hal ini yang sedang kami bandingkan sehingga kualitas aktiva produktif bisa lebih baik,” jelasnya Direktur Bank Mega Syariah Beny Witjaksono menyambut baik calon aturan BI tersebut.

Menurutnya, kebijakan restrukturisasi kredit bisa mendorong pembiayaan perbankan syariah lebih besar lagi. Adapun aturan untuk menurunkan kualitas aktiva produktif mudarabah dan musyarakah bisa mengembangkan produk perbankan syariah. “Selama ini, skema perhitungan bagi hasil mudarabah dan musyarakah sangat sulit,” ujar Beny. Contohnya, bulan ini target bagi hasil 100%, namun target tersebut tidak tercapai. Alhasil, kategori pembiayaan itu langsung turun, dari kolektibilitas 1 ke kolektibilitas 3.

(Roy Franedya)(Harian Kontan)


Bookmark and Share