Cemerlangnya kinerja PT Bank Syariah Mandiri (BSM) menjadi barometer perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia. Sebagai bukti, hingga November 2011, aset BSM mencapai Rp45,17 triliun, atau naik 53,80% dibandingkan posisi aset pada November 2010 sebesar Rp29,37 triliun.
Jumlah bank syariah terus bertambah. Di tengah kondisi tersebut, BSM mampu meningkatkan pangsa pasarnya. Aset BSM per akhir November 2011 sebesar Rp45,17 triliun. Pangsa pasar aset BSM per September 2011 terhadap industri perbankan syariah mencapai 35,27% persen, naik dibandingkan posisi pada September 2010 yang sebesar 33,31 persen.
Pengakuan atas kinerja BSM datang dari lembaga lokal dan internasional dalam bentuk penghargaan. Sejak awal 2011 hingga saat ini, BSM telah memperoleh 27 penghargaan dari lembaga lokal dan internasional. Penghargaan dari lembaga lokal di antaranya sebagai Bank Syariah Terbaik dari Karim Business Consulting, Bank Syariah Terbaik dari Majalah Investor, Bank Syariah dengan kinerja terbaik selama 10 tahun berturun-turut dari Majalah Infobank, Annual Report Award dari Kementerian Keuangan dan lembaga lainnya, dll. Sementara dari lembaga internasional, BSM memperoleh penghargaan sebagai The Best Islamic Bank, The Best Islamic Retail Bank, The Best Islamic Trade Finance Bank dan Deals of The Year dari The Asset of Hong Kong dan The Best Islamic Bank dari AsiaMoney. Hal yang juga patut disyukuri adalah Fitch Rating meningkatkan ratingnya terhadap BSM dari semula AA menjadi AA+ (idn) pada tahun ini.
Direktur Utama BSM, Yuslam Fauzi sebagai CEO tentu saja memiliki peran sentral dalam mengawal kinerja BSM menjadi seperti sekarang. Memimpin BSM sejak 2005, Yuslam melakukan perubahan mendasar di lingkungan BSM. Perubahan tersebut sempat memperoleh resistensi dari jajaran BSM. “Dalam suasana peralihan, wajar jika saat itu terjadi gejolak atas perubahan yang kami lakukan,”kata Yuslam saat berbincang dengan Pelita di Kantornya, beberapa waktu lalu.
Menurut dia, butuh keberanian (courage) untuk melakukan perubahan. Di situlah peran penting seorang pemimpin, yakni berani menetapkan kebijakan yang tegas dan tepat bagi bawahan serta keberlangsungan perseroan. Sikap tegas lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) dan MBA dari Arizona State University pada saat itu berbuah manis. Bukan hanya menghasilkan kinerja yang signifikan, Yuslam kini mendapat dukungan penuh, yang diistilahkannya engagement, dari seluruh bawahannya untuk memimpin BSM. Engagement pegawai tersebut merupakan dipercaya Yuslam sebagai salah satu faktor yang mengantarkannya meraih peringkat pertama The Best CEO 2010 di Indonesia dari majalah SWA, Indonesia Marketing Champion 2009 dari MarkPlus serta Tokoh Ekonomi Syariah 2010 dari MES.
Selain courage, Dirut yang rajin khutbah Jum’at ini masih memiliki dua jurus sebagai modal utamanya memimpin BSM, yaitu knowledge atau kompetensi dan wisdom. Knowledge merupakan modal untuk menjadi pemimpin yang dipercaya bawahan. “Kalau kita tidak kompeten, pasti tidak akan dihormati bawahan dan rekan kerja. Karena mereka cenderung tidak percaya pimpinan yang tidak menguasai bidangnya,” ungkapnya. Sementara, wisdom atau kebijaksanaan diterjemahkan sebagai ketepatan bertindak atau bersikap serta mengambil keputusan.
Yuslam yang sering menjadi pembicara tentang ekonomi dan perbankan syariah di berbagai seminar, simposium dan workshop di dalam dan luar negeri ini mengaku mengambil ketiga prinsip tersebut dari kitab suci Al-Qur’an surat Al-Baqarah tentang penciptaan manusia sebagai pemimpin atau khalifah di dunia. “Dari awal, saya harus bisa membuktikan bahwa saya bukan Dirut yang asal nempel saja. Saya punya pengalaman panjang dan insya Allah dengan dukungan segenap stakeholder BSM, kami dapat membuktikan bisa memberi pondasi yang baik bagi BSM,” tegasnya.
Pria yang hobi berenang dan main gitar ini mengakui, dirinya memang pekerja keras. Dia mengungkap tak jarang dirinya beserta jajaran direksi BSM melakukan rapat hingga dini hari. Yuslam juga mengaku menetapkan standar kerja setinggi-tingginya karena dia menyukai segala sesuatu yang excellent, atau berusaha mendekati kesempurnaan.
Terakhir, mantan aktivis mahasiswa ini, ingin menjadikan perbankan syariah sebagai salah satu industri yang layak dibanggakan oleh bangsa Indonesia. Hal itu karena bank syariah di Indonesia lahir sebagai kehendak masyarakat (society driven). Bank syariah di Indonesia memiliki latar belakang berbeda dibanding bank syariah di Timur Tengah, Eropa, dan Malaysia.
Bank syariah di Timur Tengah hadir karena berkah petrdollar pada 1970-an. Kelebihan dolar melahirkan miliuner Arab yang mencari tempat-tempat investasi. Mereka menitipkan dananya pada lembaga keuangan milik Amerika dan Eropa. Pada saat yang sama bank Islam mulai hadir di Timur Tengah dan memberikan return yang signifikan. Dana petrodollar itu pun ditarik pulang dan mengalir ke bank syariah.
Kondisi itu membuat Eropa mau tak mau harus membangun bank syariah. Mereka bertujuan menahan dana-dana milik investor Arab dan menjadikan negaranya hub bagi dana-dana Timur Tengah. Sementara di Malaysia perbankan syariah berkembang sebagai kehendak pemerintah menjadikan negaranya hub bagi keuangan syariah di Asia. Pemerintah Malaysia memberi banyak insentif kepada pelaku keuangan syariah.
Sementara itu, Indonesia tidak punya petrodollar dan tidak punya dukungan pemerintah sebagaimana di Malaysia. Dukungan terhadap perbankan syariah di Indonesia banyak berasal dari Bank Indonesia dan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Mereka adalah otoritas pembuat aturan dan fatwa terkait perbankan syariah.
“Kami tidak terlalu mengharapkan dukungan seperti yang dilakukan pemerintah Malaysia atau negara-negara lain yang sangat kuat membantu perbankan syariahnya. Bagi kami, dukungan yang berlebih akan membuat spoil (manja), kami hanya berharap diberikan dukungan dengan menempatkan kami dalam playing filed yang tepat,” pungkasnya. (cr-2/Harian Pelita)