Lebih Adil dan Menenteramkan

Layanan 24 jam

November 19, 2011 at 11:00 pm

"ANDIKA FARIS"

Laporkan usulan ini

Laporkan ideClose

Deskripsi Sosok Guru :
"ANDIKA FARIS"

1. Guru Muda yang satu ini bisa kita bilang "Pioneer Method of Learning". Dengan kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan, mudah dimengerti, dan uniknya selalu saja ada metode spontanitas dari benaknya. Benda apapun yang ada didekatnya dapat dijadikan sebagai media pembelajaran.
Sungguh -Extraordinary- dengan basisnya yang Seniman, tak cukup dengan ucapan terima kasih atas bimbingannya terhadap saya, kami, dan para anak didik, serta asuhan beliau lainnya.

2. Sebagai seorang Guru memang wajib berbakti sosial, beliau banyak mencetak bibit baru dalam dunia Seni dan Sastra. Sedikit cerita, beliau sangat benci sampah, dinamisnya; beliau malah bisa mencari sesuap nasi karena sampah yang dikelolanya menjadi daya tepat guna. Entahlah,, Beliau memang Guru sekaligus Abang IDOLA saya.

Pengusul :

Arlina Fidayanti Azizi

Asal Sekolah :
SDN Gladak Anyar 1

Website Sekolah :

Tidak Ada

Link Facebook :

http://www.facebook.com/phiedaZee

Account Twitter :

@minifakta

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan. Field yang bertanda ( * ) wajib diisi

Connect with Facebook

*


*

Harap dipastikan Anda menyampaikan komentar secara akurat, bijaksana, dan bertanggung jawab

8 Komentar

  1. GURU ADALAH AGAMA ADALAH NASEHAT ADALAH KHIDMAT..!!!

    عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

    Artinya: Dari Tamim ad-dari bahwa Nabi SAW bersabda:” ad-Din adalah nasehat”. Kami berkata untuk siapa? Rasul menjawab:” Untuk Allah, kitab-nya, rasulnya, untuk pemimpin Islam dan umatnya” (HR Muslim, Abu Dawud dan an-Nasai’i)

    Keutamaan Hadits

    Hadits ini termasuk salah satu hadits yang dimuat dalam kumpulan 40 Hadits Imam An-Nawawi, yang berarti termasuk hadits dari pokok-pokok Islam yang penting. Berkata Al-Hafizh Abu Nu’aim:”Hadits ini mencakup masalah yang besar”. Berkata Muhammad bin Aslam Ath-Thusi:” Hadits ini merupakan seperempat bagian dari agama”. Berkata Ibnu Rajab:”Fiqh berputar pada lima hadits….diantaranya hadits nasehat ini”. Berkata Mukhidin bin Al-Arabi:” Tidak ada kesempurnaan akhlak yang lebih teliti, jeli dan agung melebihi nasehat”. Nash-Nash yang Terkait dengan Hadits ini. Allah swt berfirman: “Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS At-Taubah 91)

    Hadits Rasulullah saw: “Siapa yang tidak memperhatikan urusan umat Islam maka bungan termasuk mereka. Dan siapa yang pagi dan siangnya tidak menyampaikan nasehat kepada allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, imam dan umumnya umat Islam maka bukan termasuk mereka” (HR At-Tabrani) “Allah Ta’ala berfirman (dalam Hadits Qudsi): Ibadah hamba-Ku kepada-Ku yang paling aku cintai adalah memberi nasehat kepada-Ku (HR Ahmad, berkata Zainul Huffadz: Sanadnya dhaif).

    Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya ridha untukmu tiga hal, dan juga benci bagimu tiga hal: Ridha untukmu jika menyembahnya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu, berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berselisih, dan saling nasehat menasehati terhadap orang yang Allah beri kedudukan memerintah urusanmu. Dan Allah membenci, ungkapan katanya, banyak tanya dan menyia-nyiakan harta” (HR Muslim).

    Dari Jarir berkata:” saya membai’at Rasulullah saw untuk menegakkan shalat, membayar zakat dan memberi nasehat pada setiap muslim.” (HR Bukhari dan Muslim) Memberi Nasehat adalah Aktifitas Para Nabi. Allah swt berfirman tentang nabi Nuh as. Nuh menjawab: “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam”. “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS Al-A’raaf 61-62). Firman Allah tentang nabi Hud as:

    Hud berkata: “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu” (QS Al-A’raaf 67- 68). Firman Allah tentang nabi Shalih as: Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat” (QS Al-A’raaf 79). Firman Allah tentang nabi Syua’ib as:

    Maka Syu`aib meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?” (QS Al-A’raaf 93).

    Makna Nasehat

    Nasehat secara bahasa dari kata ‘nash’ yang berarti khalus, bersih atau murni, lawan dari curang atau kotor. Sehingga jika nasehat tersebut dalam bentuk ucapan harus jauh dari kecurangan dan motivasi kotor. Sedangkan secara istilah, sebuah kata yang mengungkapkan kemauan berbuat baik kepada obyek yang diberi nasehat. Berkata Ibnu Shalah: Nasehat adalah kata-kata yang mencakup aktifitas seorang nasih kepada yang diberi nasehat dalam bentuk iradah (tekad) dan perbuatan. Disebutkan ‘nashaha tsaub’ artinya menjahit baju, seolah orang memberi nasehat seperti orang yang menjahit lubang-lubang yang ada baju.

    Nasehat kepada Allah berarti mentauhidkan Allah, mensifati-Nya dengan sifat Kamal dan Jalal, dan mensucikan-Nya dari segala kemusyrikan. Ikhlas kepada Allah dalam beramal, menjauhi kemaksiatan, mentaati dan mencintai-Nya dan berjihad terhadap orang-orang yang mengingkari-Nya. Nasehat kepada Rasul saw dengan cara mengimani Rasul saw dan segala yang datang darinya. Mencintai, menghormati, menghidupkan sunahnya, menyebarkan ilmunya. Mencintai orang yang mencintainya, membenci dan memerangi orang yang membenci dan memeranginya, mencontoh akhlaknya, mengikuti adabnya dan mencintai keluarga dan sahabatnya.

    Nasehat kepada Pemimpin Umat Islam dengan cara membantunya dalam kebenaran dan mentaatinya. Mengingatkan dan menyadarkan jika lalai dan salah dengan penuh kelembutan dan penghormatan. Mendo’akan untuk kebaikan pemimpin-pemimpin umat Islam. Nasehat kepada umat Islam dengan mengajarkan mereka kepada ajaran Islam dan membimbingnya. Menutupi aib umat Islam, mencintai mereka sebagaimana mencintai dirinya, membenci bagi mereka apa yang dibenci dirinya dari keburukan dan mendo’akan untuk kebaikan mereka di dunia dan akhirat. Dan diantara bentuk nasehat kepada umat Islam juga menyingkirkan segala sesuatu yang membahayakan umat Islam. Mengutamakan yang fakir, mengajari yang belum tahu ajaran Islam, menyadarkan kesalahannya dengan penuh kelembutan dan menolong mereka dalam kebaikan dan takwa.

    Jika melihat makna dan ruang lingkup nasehat maka semua orang membutuhkan nasehat, baik menerima nasehat atau memberi nasehat. Karena nasehat merupakan aktifitas penyadaran atas kelalaian manusia dan penyempurnaan akan kekurangan-kekurangannya. Dan orang yang menolak nasehat dan marah jika dinasehati, mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan kebaikan, tidak ingin maju, tertipu dan sombong. Dan salah satu bentuk nasehat yang harus diutamakan adalah memberi nasehatkepada yang memintanya. Rasulullah saw bersabda:

    “Jika salah seorang saudaramu minta nasehat maka berilah nasehat dan mudahkanlah dalam memberi”(HR Bukhari)

    Nasehat adalah prinsip dasar dalam kehidupan umat Islam karena kehidupan umat dibangun atas dasar ukhuwah Islamiyah dan tolong menolong. Maka nasehat adalah bentuk kongkrit dari ukhuwah dan tolong-menolong. Walaupun begitu nasehat harus dilakukan dengan penuh ikhlas sesuai dengan makna nasehat tersebut. Lebih dari itu nasehat akan sampai pada sasaran jika dilakukan dengan adab yang baik, yaitu dengan cara menyampaikannya dengan penuh kelembutan dan kecintaan. Jika sesuatu yang disampaikan terkait dengan aib dirinya maka penyampaiannya harus secara rahasia. Kecuali yang bersangkutan memang melakukannya dengan terang-terangan dan terbuka.

    Keutamaan Menyampaikan Nasehat

    Nasehat adalah aktifitas para nabi sesuai dengan ayat-ayat diatas. Tidaklah perbuatan yang dilakukan para nabi kecuali perbuatan utama. Nasehat juga merupakan pilar Islam yang paling pokok. Berkata Abu Bakar Al-Muzani:” Kelebihan Abu Bakar ra atas sahabat yang lain bukan pada saum dan shalatnya tetapi pada sesuatu yang ada pada hatinya yaitu mencintai karena Allah dan memberi nasehat kepada mahluknya. Ibnu Mubarak pernah ditanya: Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab:” Memberi nasehat karena Allah”. Demikianlah betapa utamanya nasehat dalam pandangan Islam sehingga saling nasehat menasehati harus dibudayakan oleh umat Islam. Hal ini karena tidak ada seorangpun yang sempurna sehingga ketika ketika kita melihat saudara kita lalai maka kita wajib memberi nasehat padanya, begitu juga sebaliknya.

    Dalam sejarah Islam banyak dicontohkan pemimpin-pemimpin umat yang menerima nasehat dengan baik dan bahkan mengucapkan terima kasih kepada mereka yang memberi nasehat. Umar bin Khattab mengatakan:” Semoga Allah merahmati seseorang yang memberitahukan aibku”. Suatu hari seseorang berkata pada Umar :” Bertakwalah engkau !”. Maka mendengar ungkapan tersebut yang lainnya menghardik dan mengatakan:” Engkau mengatakan kepada Amirul Mukminin, bertakwalah!”. Tetapi Umar bin Khattab mencegah dan berkata:” Tidak ada kebaikan padamu jika engkau tidak mengatakan ungkapan tersebut, dan tidak ada kebaikan bagi kami jika tidak mendengarkannya”. Begitu juga saat Umar ingin ikut berperang melawan Parsia, sebagian sahabat melarang, karena kesertaannya dalam suatu peperangan akan berdampak buruk dan berbahaya bagi umat Islam. Maka Umar bin Khattab menerima nasehat tersebut. Nasehat adalah prinsip dasar dalam kehidupan umat Islam karena kehidupan umat dibangun atas dasar ukhuwah Islamiyah dan tolong menolong. Maka nasehat adalah bentuk kongkrit dari ukhuwah dan tolong-menolong. Namun demikian dalam memberi nasehat haruslah dengan niat ikhlas karena Allah, tidak mencari popularitas, ketenaran dan motivasi rendah lainnya. Karena nasehat adalah agama dan dalam melaksanakan agama harus ikhlas karena Allah.

    Nasehat juga harus dilakukan dengan baik dan bijaksana. Nasehat bukanlah membuka aib seseorang di muka umum, karena nasehat adalah perbaikan sedangkan membuka aib adalah kerusakan. Oleh karenanya dalam memberi nasehat harus dijauhkan dari cara-cara yang kasar dan keras. Semakin lembut dalam memberikan nasehat semakin diterima oleh hati, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah swt:

    “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS Ali-Imran 159).

    Diceritakan di masa kekuasaan Bani Abasiah, ada seoarang lelaki yang memberi nasehat kepada al-Makmun, kemudian ia masuk istana dan memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, tetapi dengan cara yang kasar. Maka berkata al-Ma’mun: ”Wahai saudaraku, sesungguhnya Allah telah mengutus orang yang lebih baik darimu kepada orang yang lebih jelek dariku. Allah mengutus Musa dan Harun as kepad Fir’aun dan Allah berfirman, artinya:”Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS Thaaha 44).

    Begitulah, nasehat hendaknya dibungkus dengan kata-kata yang baik sehingga mudah diterima dan mudah dilaksanakan. Sedangkan ungkapan yang kasar akan menyakitkan dan menyebabkan permusuhan. Sifat orang beriman adalah memberi nasehat dan menutup aib saudaranya sedangkan sifat orang fasik membiarkan kesalahan temannya dan membuka aibnya. Seseorang yang hari ini memberi nasehat mungkin saja besok mendapat nasehat, karena nasehat tidak terkait dengan orang tertentu dan pekerjaan tertentu. Dan karena manusia memiliki karakteristik suka salah dan lupa. Sehingga ketika ia pada hari ini lupa atau salah maka yang lain mengingatkan begitu juga orang yang hari ini memberi nasehat mungkin besok lupa atau salah sehingga harus dinasehati dan diingatkan.

    Betapa pentingnya nasehat sampai imam asy-Syafi’i mengomentari surat al-Ashr: ”Jika saja Allah hanya menurunkan surat al-Ashr maka sudah cukuplah surat ini sebagai pedoman untuk manusia.” Ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, beliau menulis surat kepada imam Hasan al-Bashri agar memberi nasehat dan menceritakan sifat-sifat pemimpin yang adil. Maka imam Hasan al-Bashri menulis surat diantara isinya: “Ketahuilah, wahai Amirul Mukminin sesungguhnya Allah menjadikan pemimpin yang adil untuk meluruskan orang yang menyimpang, mengembalikan arah bagi yang berdosa, memperbaiki yang rusak, memberi kekuatan bagi yang lemah, menegakkan keadilan bagi yang zhalim, menyadarkan yang lalai. Pemimpin yang adil wahai Amirul Mukminin seperti pengembala yang penuh kasih sayang atas penggembalaannya, yang menggiringnya ke tempat penggembalaan yang baik, menjauhkan dari bahaya yang mengancamnya, memeliharanya dari binatang buas, menjaganya dari panas terik dan hujan.

    Pemimpin yang adil wahai Amirul Mukminin seperti ayah yang bertanggung-jawab. Lembut lembut terhadap anaknya. Bekerja untuk anak-anaknya saat masih kecil, mengajarkan mereka dan mengurusi kebutuhan hidupnya dan menabung untuk mereka setelah matinya. Pemimpin yang adil wahai amirul Mukminin seperti ibu yang lembut terhadap anaknya, mengandung dan melahirkannya dengan susah payah, mengasuhnya ketika kecil, ikut begadang ketika anaknya bangun malam, dan ikut tenang ketika anaknya tenang. Suatu saat menyusuinya, pada saat yang lain melepaskannya. Merasa senang dengan kesehatannya dan merasa berduka dengan sakitnya. Pemimpin wahai Amirul Mukminin seperti hati dengan anggota badan. Anggota badan akan baik jika hatinya baik dan anggota badan akan rusak jika hatinya rusak. Pemimpin yang adil wahai Amirul Mukminin adalah orang yang berdiri diantara Allah dan hambanya, mendengar firman Allah dan memperdengarkannya, mengenal Allah dan memperkenalkannya, dipimpin Allah dan memimpin mereka. Jangan sampai engkau wahai Amirul Mukminin seperti hamba yang diberi amanah Allah ibarat budak yang diberi amanah oleh majikannya tentang harta dan keluarga , kemudian menyia-nyiakan harta dan menghancurkan keluarga, membuat miskin anggota keluarga dan membuang harta benda.

    Ketahuilah wahai Amirul Mukminin sesungguhnya Allah menurunkan hudud (hukuman) agar menyadarkan orang dari perbuatan kotor dan keji, bagaimana jika hal itu dilakukan orang yang mesti menegakkannya? Dan Allah menurunkan qishash sebagai jaminan kehidupan bagi hambanya, bagaimana jika yang memimpin melakukan pembunuhan yang mestinya menegakkan qishash kepada mereka? Ingatlah wahai Amirul Mukminin akan kematian dan sesudahnya, sedikitnya temanmu dan pembelamu disana. Maka hendaknya engkau mempersiapkan bekal untuk kematian dan kehidupan sesudahnya yaitu di hari yang besar”.
    Seluruh Warga Jawa Tengah Siap Mendukung Saudara ANDIKA FARIS. S.Pd.

    Laporkan komentar ini

    Comment by Moh Jazuli Anwar on November 25, 2011 at 2:03 am
  2. Guru, duh Andika Faris Saudaraku.. Seorang Guru.. Demikian kata yang sering kita gunakan untuk menyebut mereka yang mendidik kita, tapi telah tuntaskah kita memahami istilah guru? Sedikit artikel ini, bisa menjadi bahan referensi tentang definisi seorang guru. Seperti apasih guru itu? …

    Dalam paradigma Jawa, pendidik diidentikkan dengan guru, yang mempunyai makna “Digugu dan ditiru” artinya mereka yang selalu dicontoh dan dipanuti.

    Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah seorang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Dalam bahasa Arab disebut mu’allim dan dalam bahasa Inggris disebut Teacher. Itu semua memiliki arti yang sederhana yakni “A Person Occupation is Teaching Other” artinya guru ialah seorang yang pekerjaannya mengajar orang lain.·

    Menurut Ngalim Purwanto bahwa guru ialah orang yang pernah memberikan suatu ilmu atau kepandaian kepada seseorang atau sekelompok orang.·

    Ahmad Tafsir mengemukakan pendapat bahwa guru ialah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, kognitif maupun psikomotorik.·

    Sedangkan menurut Hadari Nawawi bahwa pengertian guru dapat dilihat dari dua sisal. Pertama secara sempit, guru adalah ia yang berkewajiban mewujudkan program kelas, yakni orang yang kerjanya mengajar dan memberikan pelajaran di kelas. Sedangkan secara luas diartikan guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak dalam mencapai kedewasaan masing-masing.·

    Pengertian-pengertian diatas menurut Muhibbin Syah masih bersifat umum, dan oleh karenanya dapat mengundang bermacam-macam interpretasi dan bahkan juga konotasi (arti lain). Pertama adalah kata “seorang (A Person) bisa mengacu pada siapa saja asal pekerjaan sehari-harinya (profesinya) mengajar. Dalam hal ini berarti bukan hanya dia yang sehari-harinya mengajar disekolah yang dapat disebut guru, melainkan juga dia-dia yang lainnya yang berprofesi (berposisi) sebsagai Kyai di pesantren, pendeta di gereja, instruktur di balai pendidikan dan pelatihan, kedua adalah kata “mengajar” dapat pula ditafsirkan bermacam-macam misalnya:

    Menularkan (menyampaikan) pengetahuan dan kebudayaan kepada orang lain (bersifat kognitif)
    Melaih keterampilan jasmani kepada orang lain (psikomotorik)
    Menanamkan nilai dan keyakinan kepada orang lain (afektif)
    Akan tetapi terlepas dari bermacam interpretasi tadi guru yang dimaksud dalam pembahasan ini ialah tenaga pendidik yang pekerjaannya mengajar seperti yang tersebut dalam UUSPN tahun 1989 Bab VII pasal 27 ayat 3. ·

    Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil sebuah konklusi bahwa yang dimaksud guru adalah seorang atau mereka yang pekerjaannya khusus menyampaikan (mengajarkan) materi pelajaran kepada siswa disekolah.

    · Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, cet I, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1995), hal. 233

    · Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, cet VII, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), hal. 126

    · Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), hal. 74-75

    · Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hal. 123

    · Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, cet I, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1995), hal.233

    Read more: http://kafeilmu.com/2011/04/definisi-guru-tahukah-anda.html#ixzz1eg6MKYGv

    Laporkan komentar ini

    Comment by Ali Baki on November 25, 2011 at 1:56 am
  3. Orang jawa menyebutkan bahwa Guru berasal dari kata “digugu lan ditiru”. Artinya bahwa seorang Guru harus bisa dipercaya dan ditiru setiap hal yang positif. baik dari segi keilmuan yang dikuasainya hingga sikap dan etikanya ketika di sekolah. Peraturan sekolah selalu memberikan aturan kepada semua siswanya mulai dari A sampai Z. Termasuk bagaimana bentuk seragam mereka. Rata-rata sekolah mengharuskan seragam siswa tidak neko-neko. Misalnya, celana siswa putra tidak boleh domodel seperti celana pensil, atasan tidak boleh dimodel jangkis, kaos kaki harus putih dan hitam saja, sepatu harus bertali, dan sebagainya. Begitu pula dengan anak perempuan, bawahan panjangnya harus mencapai lima centimeter dibawah lutut, atasan tidak boleh ketat, bagi yang berkerudung tidak diperbolehkan memakai kerudung instan, dan lain-lain.
    BAnyaknya peraturan yang menjerat siswa bisa saja menimbulkan protes yang luar biasa, jika ada salah seorang Guru yang berbusana diluar etika. Misalnya, “Bu X pake rok mini,..ketat,..dibelah belakang lagi,…gitu aja dibiarin,…lipstiknya merah banget lagi,..belum lagi sepatunya tuh,..tinggi banget kek tangga,…huh coba kita yang pake rok pendek dikit pasti deh,..lari lapangan,…hormat bendera“. Pernah mendengar celotehan ini / atau bahkan kita yang pernah mengatakan hal yang sama semasa sekolah dulu ?
    Segalanya jelas,..karena si murid merasa sekolah tidak adil,…jika mereka dijerat oleh banyak peraturan. Ada baiknya Dewan guru dan karyawan pun dikenakan peraturan yang sama mendidiknya. Intinya seorang guru haruslah berpakaian yang sopan jika ke sekolah. mengenakan pakaian yang sesuai ukuran tubuh (tidak terlalu ketat atau kedodoran) begitu pula dengan model bajunya. Menggunakan tata rias yang jauh lebih natural (Ndak norak,..yang penting kelihatan bersih). Sepatu yang digunakan pun jangan yang berlebihan, hindari hak terlalu tinggi dn motif yang terlalu rame. Perhiasan dan asesoris sewajarnya saja, jangan sampai dapat julukan toko mas berjalan daari murid kita.
    Yang terpenting dari semua itu ialah menjaga segala tingkah dan laku. Termasuk perkataan dan pergaulan sesama guru. Karena apa yang dilihat oleh anak didik kita akan selamanya melekat. Julukan Bu Hebring (berlebihan memakai perhiasan), Miss RingRing (Tukang telpon), dan sebagainya ialah berasal dari perilaku dan cara seorang guru mendandani fisiknya. Semoga bisa saling berintropeksi. Cukup salut dengan prestasi Bapak Muda ini. Pertahankan..!!!

    Laporkan komentar ini

    Comment by Lara Asih Mulya. S. Pd. on November 25, 2011 at 1:40 am
  4. Pendidik dalam Islam ialah siapa saja yang bertanggung-jawab terhadap perkembangan anak didik. Dalam Islam, orang yang paling bertanggung-jawab adalah orangtua (ayah dan ibu) anak didik. Tanggung jawab itu disebabkan oleh dua hal yaitu pertama, karena kodrat yaitu karena orangtua ditakdirkan menjadi orangtua anaknya, dan karena itu ia ditakdirkan pula bertanggung-jawab mendidik anaknya. Kedua, karena kepentingan kedua orangtua yaitu orangtua berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya.
    Kemudian pendidik dalam Islam adalah guru. Kata guru berasal dalam bahasa Indonesia yang berarti orang yang mengajar. Dalam bahasa Inggris, dijumpai kata teacher yang berarti pengajar.
    Dalam bahasa Arab istilah yang mengacu kepada pengertian guru lebih banyak lagi seperti al-alim (jamaknya ulama) atau al-mu’allim, yang berarti orang yang mengetahui dan banyak digunakan para ulama/ahli pendidikan untuk menunjuk pada hati guru. Selain itu ada pula sebagian ulama yang menggunakan istilah al-mudarris untuk arti orang yang mengajar atau orang yang memberi pelajaran. Selain itu terdapat pula istilah ustadz untuk menunjuk kepada arti guru yang khusus mengajar bidang pengetahuan agama Islam.
    Jadi, guru yang dimaksud disini ialah pendidik yang memberikan pelajaran kepada murid, biasanya guru adalah pendidik yang memegang mata pelajaran di sekolah. Saya suka kata-kata Bapak.

    Laporkan komentar ini

    Comment by Ikhsan Adi on November 25, 2011 at 1:32 am
  5. Sedikit menambahkan, dalam sya’ir Arab juga disebutkan,

    وَ لاَ تَرْجِ عَمَلَ اليَوْمِ إِلَى الغَدِ لَعَلَّ غَدًا يَأْتِي وَ أَنْتَ فَقِيْدُ

    “Janganlah engkau menunda-nunda amalan hari ini hingga besok
    Seandainya besok itu tiba, mungkin saja engkau akan kehilangan.”

    Semangat buat Saudara Andika Faris, sempat browsing di Google, kok sepertinya akan menjadi Inspirasi Saya dalam setiap tulisan-tulisannya. Terima kasih Sahabat.

    Laporkan komentar ini

    Comment by Arif Amin on November 21, 2011 at 4:54 am
  6. Alhamdulillah, seperti yang sudah Saya posting di blog Saya http://min-plus.blogspot.com/ dapat di deskripsikan bahwa; Masih berkaca pada untaian nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Menjelang akhir nasihatnya, Luqman melarang sang anak dari sikap takabur dan memerintahkannya untuk merendahkan diri (tawadhu’). Luqman berkata kepada anaknya:
    وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتاَلٍ فَخُوْرٍ

    “Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang angkuh dan menyombongkan diri.” (Luqman: 18)

    Demikian Luqman melarang untuk memalingkan wajah dan bermuka masam kepada orang lain karena sombong dan merasa dirinya besar, melarang dari berjalan dengan angkuh, sombong terhadap nikmat yang ada pada dirinya dan melupakan Dzat yang memberikan nikmat, serta kagum terhadap diri sendiri. Karena Allah tidak menyukai setiap orang yang menyombongkan diri dengan keadaannya dan bersikap angkuh dengan ucapannya. (Taisirul Karimir Rahman hal. 649)
    Pada ayat yang lain Allah k melarang pula:

    وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ اْلأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِباَلَ طُوْلاً

    “Dan janganlah berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mencapai setinggi gunung.” (Al-Isra`: 37)
    Demikianlah, seseorang dengan ketakaburannya tidak akan dapat mencapai semua itu. Bahkan ia akan menjadi seorang yang terhina di hadapan Allah k dan direndahkan di hadapan manusia, dibenci, dan dimurkai. Dia telah menjalani akhlak yang paling buruk dan paling rendah tanpa menggapai apa yang diinginkannya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 458)
    Kehinaan. Inilah yang akan dituai oleh orang yang sombong. Dia tidak akan mendapatkan apa yang dia harapkan di dunia maupun di akhirat.
    ‘Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi n:

    يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُوْنَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ أَمْثاَلَ الذَّرِّ فِيْ صُوْرَةِ الرِّجاَلِ، يَغْشاَهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكاَنٍ، يُسَاقُوْنَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُوْلَسَ، تَغْلُوْهُمْ ناَرٌ مِنَ اْلأَنْياَرِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِيْنَةِ الْخَباَلِ

    “Orang-orang yang sombong dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia, diliputi oleh kehinaan dari segala arah, digiring ke penjara di Jahannam yang disebut Bulas, dilalap oleh api dan diberi minuman dari perasan penduduk neraka, thinatul khabal.1” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 434)
    Bahkan seorang yang sombong terancam dengan kemurkaan Allah k. Demikian yang kita dapati dari Rasulullah n, sebagaimana yang disampaikan oleh seorang shahabat mulia, ‘Abdullah bin ‘Umar c:

    مَنْ تَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ أَوِ اخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ

    “Barangsiapa yang merasa sombong akan dirinya atau angkuh dalam berjalan, dia akan bertemu dengan Allah k dalam keadaan Allah murka terhadapnya.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy- Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 427)
    Kesombongan (kibr) bukanlah pada orang yang senang dengan keindahan. Akan tetapi, kesombongan adalah menentang agama Allah k dan merendahkan hamba-hamba Allah k. Demikian yang dijelaskan oleh Rasulullah n tatkala beliau ditanya oleh ‘Abdullah bin ‘Umar c, “Apakah sombong itu bila seseorang memiliki hullah2 yang dikenakannya?” Beliau n menjawab, “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki dua sandal yang bagus dengan tali sandalnya yang bagus?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki binatang tunggangan yang dikendarainya?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki teman-teman yang biasa duduk bersamanya?” “Tidak.” “Wahai Rasulullah, lalu apakah kesombongan itu?” Kemudian beliau n menjawab:

    سَفَهُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

    “Meremehkan kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 426)
    Tak sedikit pun Rasulullah n membuka peluang bagi seseorang untuk bersikap sombong. Bahkan beliau n senantiasa memerintahkan untuk tawadhu’. ‘Iyadh bin Himar z menyampaikan bahwa Rasulullah n bersabda:

    إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

    “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’ hingga tidak seorang pun menyombongkan diri atas yang lain dan tak seorang pun berbuat melampaui batas terhadap yang lainnya.” (HR. Muslim no. 2865)
    Berlawanan dengan orang yang sombong, orang yang berhias dengan tawadhu’ akan menggapai kemuliaan dari sisi Allah k, sebagaimana yang disampaikan oleh shahabat yang mulia, Abu Hurairah z bahwa Rasulullah n bersabda:

    وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

    “Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan mengangkatnya.” (HR. Muslim no. 2588)
    Tawadhu’ karena Allah k ada dua makna. Pertama, merendahkan diri terhadap agama Allah, sehingga tidak tinggi hati dan sombong terhadap agama ini maupun untuk menunaikan hukum- hukumnya. Kedua, merendahkan diri terhadap hamba-hamba Allah k karena Allah k, bukan karena takut terhadap mereka, ataupun mengharap sesuatu yang ada pada mereka, namun semata-mata hanya karena Allah k. Kedua makna ini benar.
    Apabila seseorang merendahkan diri karena Allah k, maka Allah k akan mengangkatnya di dunia dan di akhirat. Hal ini merupakan sesuatu yang dapat disaksikan dalam kehidupan ini. Seseorang yang merendahkan diri akan menempati kedudukan yang tinggi di hadapan manusia, akan disebut-sebut kebaikannya, dan akan dicintai oleh manusia. (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/365)
    Tak hanya sebatas perintah semata, kisah-kisah dalam kehidupan Rasulullah n banyak melukiskan ketawadhu’an beliau. Beliau n adalah seorang manusia yang paling mulia di hadapan Allah k. Meski demikian, beliau menolak panggilan yang berlebihan bagi beliau. Begitulah yang dikisahkan oleh Anas bin Malik z tatkala orang-orang berkata kepada Rasulullah n, “Wahai orang yang terbaik di antara kami, anak orang yang terbaik di antara kami! Wahai junjungan kami, anak junjungan kami!” Beliau n pun berkata:

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، إِنِّي لاَ أُرِيْدُ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيهِ اللهُ تَعَالَى، أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

    “Wahai manusia, hati-hatilah dengan ucapan kalian, jangan sampai kalian dijerumuskan oleh syaitan. Sesungguhnya aku tidak ingin kalian mengangkatku di atas kedudukan yang diberikan oleh Allah ta’ala bagiku. Aku ini Muhammad bin ‘Abdillah, hamba-Nya dan utusan-Nya.” (HR. An- Nasa`i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, dikatakan dalam Ash-Shahihul Musnad fi Asy-Syamail Muhammadiyah no. 786: hadits shahih menurut syarat Muslim)
    Anas bin Malik z mengisahkan:

    كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُوْرُ اْلأَنْصَارَ فَيُسَلِّمُ عَلَى صِبْيَانِهِمْ وَيَمْسَحُ بِرُؤُوْسِهِمْ وَيَدْعُو لَهُمْ

    “Rasulullah n biasa mengunjungi orang-orang Anshar, lalu mengucapkan salam pada anak-anak mereka, mengusap kepala mereka dan mendoakannya.” (HR An. Nasa`i, dikatakan dalam Ash- Shahihul Musnad fi Asy-Syamail Muhammadiyah no. 796: hadits hasan)
    Ketawadhu’an Rasulullah n ini menjadi gambaran nyata yang diteladani oleh para shahabat. Anas bin Malik z pernah melewati anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam pada mereka. Beliau n mengatakan:

    كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

    “Nabi n biasa melakukan hal itu.” (HR. Al-Bukhari no. 6247 dan Muslim no. 2168)
    Memberikan salam kepada anak-anak ini dilakukan oleh Nabi n dan diikuti pula oleh para shahabat beliau g. Hal ini merupakan sikap tawadhu’ dan akhlak yang baik, serta termasuk pendidikan dan pengajaran yang baik, serta bimbingan dan pengarahan kepada anak-anak, karena anak-anak apabila diberi salam, mereka akan terbiasa dengan hal ini dan menjadi sesuatu yang tertanam dalam jiwa mereka.(Syarh Riyadhish Shalihin, 1/366-367)
    Pernah pula Abu Rifa’ah Tamim bin Usaid zmenuturkan sebuah peristiwa yang memberikan gambaran ketawadhu’an Nabi n serta kasih sayang dan kecintaan beliau terhadap kaum muslimin:

    اِنْتَهَيْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ، رَجُلٌ غَرِيْبٌ جَاءَ يَسْأَلُ عَنْ دِيْنِهِ لاَ يَدْرِي مَا دِيْنُهُ؟ فَأَقْبَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرَكَ خُطْبَتَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَيَّ فَأُتِيَ بِكُرْسِيٍّ، فَقَعَدَ عَلَيْهِ، وَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ، ثُمَّ أَتَى خُطْبَتَهُ فَأَتَمَّ آخِرَهَا

    “Aku pernah datang kepada Rasulullah n ketika beliau berkhutbah. Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, seorang yang asing datang padamu untuk bertanya tentang agamanya, dia tidak mengetahui tentang agamanya.’ Maka Rasulullah n pun mendatangiku, kemudian diambilkan sebuah kursi lalu beliau duduk di atasnya. Mulailah beliau mengajarkan padaku apa yang diajarkan oleh Allah. Kemudian beliau kembali melanjutkan khutbahnya hingga selesai.” (HR. Muslim no. 876)
    Begitu banyak anjuran maupun kisah kehidupan Rasulullah n yang melukiskan ketawadhu’an beliau. Demikian pula dari para shahabat g. Tinggallah kembali pada diri ayah dan ibu. Jalan manakah kiranya yang hendak mereka pilihkan bagi buah hatinya? Mengajarkan kerendahan hati hingga mendapati kebahagiaan di dua negeri, ataukah menanamkan benih kesombongan hingga menuai kehinaan di dunia dan akhirat?
    Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
    1 Thinatul khabal adalah keringat atau perasan dari penduduk neraka.
    2 Hullah adalah pakaian yang terdiri dari dua potong baju.

    Semoga lebih banyak lagi para Pendidik yang serupa dengan Saudara Andika Faris.

    Laporkan komentar ini

    Comment by Arif Amin on November 21, 2011 at 4:48 am
  7. Like :-)

    SDN GLADAK ANYAR PAMEK TAH?

    Laporkan komentar ini

    Comment by Shemy Mars on November 19, 2011 at 11:44 pm
  8. Silahkan tuangkan komentar tmen2 tentang pengajar tersebut disini.

    Laporkan komentar ini

    Comment by Arlina Fidayanti Azizi on November 19, 2011 at 11:03 pm