Untuk Peradaban Mulia

Layanan 24 jam

Berita

Tiga Komponen yang Memperkuat Ekonomi Syariah

Ada tiga komponen yang dinilai mampu menguatkan ekonomi syariah. Ekonomi syariah dapat berjalan baik apabila komponen-komponen tersebut dapat bersatu.

Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Didin Hafidhuddin mengatakan, ketiga komponen tersebut adalah sektor riil atau sektor usaha yang digerakkan masyarakat, sektor moneter, atau keuangan dan sektor zakat, infaq, sedekah,dan wakaf. “Alhamdulillah, dari sektor keuangan, perbankan, asuransi.dan pegadaian syariah sudah semakin maju,” ujarnya saat penyerahan hibah surplus underwriting dana tabarru dari AXA Mandiri, Kamis (22/8).

Saat ini, kata Didin, bisnis syariah semakin merambah luas ke berbagai bidang. “Ada pariwisata syariah, hotel syariah, bahkan bengkel syariah.”

Potensi zakat, infak, dan sedekah (ZIS) juga cukup besar. Didin mengatakan, jika ditotal, perolehan ZIS di seluruh dunia bisa mencapai Rp6.600 triliun setiap tahunnya. “Di Indonesia, zakat, infak, dan sedekah mencapai Rp217,3 triliun per tahun atau seperlima dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kalau terus digerakkan maka dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Dana surplus underwriting yang dihibahkan ke BAZNAS mencapai Rp577 juta. “Kami harap dengan adanya penyaluran dana hibah ini kepada BAZNAS, masyarakat yang membutuhkan akan menerima manfaat dengan sebaik-baiknya,” kata Chief Financial Officer AXA Mandiri Iwan Pasila.

AXA Mandiri membukukan surplus underwriting yang diperoleh dari kontribusi peserta ke dalam dana tabarru sebesar Rp3,9 miliar. Anglo tersebut naik sembilan persen dibanding 2011dari Rp3,6 triliun. Sebesar 30 persen dari total surplus underwriting, yakni Rp1,26 miliar, dibagikan kepada para pemegang polis yang berhak.

Seiring pembukuan surplus underwriting asuransi syariah pada 2012, pertumbuhan bisnis asuransi syariah AXA Mandiri menunjukkan perkembangan positif. Bahkan, rasio kecukupan tabarru meningkat 34 persen menjadi 81 persen pada 2012. Angka tersebut jauh di atas yang dipersyaratkan regulator, yakni aturan risiko berdasarkan modal (risk based capital) asuransi syariah minimum 15 persen pada 2012 dan 30 persen pada 2014. (Republika)


Bookmark and Share