Layanan 24 jam

Berita

Nasabah BSM Bisa Transaksi di Mandiri

Bank Syariah Mandiri (BSM) sedang mempersiapkan penerapan sistem channeling dengan induk. Hal ini berarti, nasabah BSM bisa melakukan transaksi syariah di kantor-kantor Bank Mandiri. Direktur Utama BSM Yuslam Fauzi mengatakan, sistem ini akan sangat menguntungkan bagi nasabah dan perusahaan. Selain memudahkan nasabah menjangkau layanan syariah di kantor-kantor konvensional, sistem channeling ini juga akan meningkatkan efisiensi perusahaan. “Sudah ada komitmen untuk mengembangkan ini,” ujar Yuslam kepada wartawan, baru-baru ini.

Bagi perusahaan (BSM), ini akan memberikan keuntungan tersendiri. Anak usaha Bank Mandiri ini bisa meningkatkan efisiensi serta mempercepat kinerja, apabila sistem ini dipakai. Bila mengembangkan jaringan sendiri, kata Yuslam, harus mengeluarkan biaya terutama untuk kantor dan sumber daya manusianya.

Rencananya, BSM akan melakukan pilot project di beberapa kantor cabang Bank Mandiri di wilayah Jawa untuk melihat seberapa besar animonya. Terkait perdebatan tentang sulitnya pengawasan Dewan Pengawas Syariah (DPS), Yuslam menyebutkan, ini bukan suatu hambatan. Secara administrasi dan teknologi, sistem syariah dan konvensional sudah berbeda. Artinya, BSM hanya menumpang ruangan saja di kantor induk untuk efisiensi.

Untuk pilot project, BSM baru akan menghimpun dana pihak ketiga melalui sistem ini. Pasalnya, produk ini yang lebih cepat dan efisien untuk diterapkan lebih dulu. Untuk pembiayaan perusahaan baru akan mengembangkannya setelah pilot project berjalan. “Namun, tidak dalam waktu dekat,” ujarnya.

Yuslam menyebutkan, kalaupun akan mengembangkan pembiayaan, produk pertama yang akan dijual melalui channeling adalah gadai. “Karena gadai dianggap paling mungkin dan tidak rumit prosesnya,” ujar Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) ini.

Ia mengharapkan, pilot project dapat dilaksanakan pada kuartal pertama 2013. Terkait insentif untuk Bank Mandiri, Yuslam mengungkapkan, itu terserah pada perusahaan. “Perhitungan dilakukan agar terlihat berapa nilai riilnya hanyalah akuntansi intern. Bila untuk kepentingan grup, ini tidak ada dampaknya,” tutur Yuslam.

Tambah modal

BSM memproyeksikan pertumbuhan akhir tahun akan sama dengan kuartal ketiga, yaitu kurang lebih 21 persen untuk pembiayaan. Perusahaan tidak akan menargetkan pertumbuhan yang bombastis, akhir tahun ini. BSM juga tengah menanti kucuran modal dari induk untuk menjaga CAR agar tetap sehat. “Mudah-mudahan, sebelum tutup tahun bisa tambah Rp 300 miliar,” ujar Yuslam.

Dengan suntikan modal pada akhir tahun, CAR BSM diperkirakan mencapai 14 persen. Tapi, apabila suntikan modal diundur hingga tahun depan, CAR perusahaan akan bertahan di angka 13,9% . “Namun, ini pun sudah cukup sehat karena jauh dari batas minimal,” kata Yuslam.

Penambahan modal ini diharapkan bisa menaikkan kelompok usaha bank umum (BUKU) BSM dari BUKU II ke BUKU III. Yuslam mengungkapkan, saat ini modal inti perusahaan ada di angka Rp3,9 triliun. Pada akhir tahun, dengan penambahan modal dari Bank Mandiri perusahaan bisa mencapai modal Rp 4,5 triliun.

Per awal tahun depan, BSM akan mendapatkan modal Tier I, sehingga modal BSM akan mencapai Rp5 triliun. Ini berarti, perusahaan sudah akan masuk ke BUKU III dengan berbagai tambahan upaya lain. “Mudah-mudahan bisa masuk BUKU III pada akhir 2013,” ujar Yuslam.

Yuslam melanjutkan, perusahaan akan masuk ke jasa trustee. Tapi, ini masih menunggu peralihan dari Bank Indonesia (BI) ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) karena dimungkinkan ada aturan sertifikasi sumber daya manusia atau aturan lain yang harus dipenuhi. Bila tidak ada aturan lain yang memberatkan, BSM akan segera masuk ke sana. Selama ini, BSM sudah dapat mengelola pembiayaan dengan baik.

Akhir pekan lalu, BSM menggelar penghargaan bagi nasabah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan milad BSM ke-13 dan milad BSM UMKM yang ke-5. (Republika)


Bookmark and Share