Layanan 24 jam

Berita

Rencana Bisnis Bank Syariah Dipantau

Sebelum memberlakukan rasio agunan minimal terhadap nilai total pembiayaan bagi bank syariah, BI memperketat mekanisme pengawasan yang dapat meningkatkan sisi keamanan pembiayaan. Kepala DPS BI Edy Setiadi mengungkapkan meski aturan LTV belum diberlakukan, bank sentral telah melaksanakan pengawasan dan koordinasi untuk mengatasi risiko yang dapat timbul.

Pengawasan dan koordinasi yang dimaksud antara lain pengawasan terhadap perubahan rencana bisnis bank (RBB) syariah, besaran bagi hasil yang diterima bank, dan jumlah rumah yang dimiliki oleh calon nasabah.
“Kalau DP (down payment) terlalu rendah dan LTV terlalu tinggi, tentu akan membahayakan bagi sektor pembiayaan apapun. Namun, kalau ada pembiayaan mudharabah dan bagi hasil, dan apabila di situ bank bisa menikmati bagi hasil yang cukup besar, itu secara tidak langsung ada pengaman bagi banknya sendiri. Walaupun LTV tinggi, ada bagi hasil yang besar yang dapat digunakan untuk cover itu” jelasnya, Jumat (31/8).

Dengan demikian, bagi hasil yang cukup besar yang diterima bank syariah merupakan bantaian yang dapat digunakan oleh industri. Dana yang diperoleh dari bagi hasil tersebut dapat dijadikan pengaman apabila rasio LTV terlalu tinggi dan terjadi risiko.

Dia melanjutkan cara lain yang saat ini dilakukan sembari menunggu aturan LTV adalah mengimbau bank syariah untuk meminta uang muka yang lebih besar bagi rumah yang bukan rumah pertama.
“Atau bagi pembiayaan perumahan hanya satu dan yang rumah pertama, DP-nya bisa 10%-15%. Nah, bagi rumah kedua atau ketiga, pengawas dapat mengatakan tidak dapat memberikan DP serendah itu dan harus menerapkan minimal DP yang ditentukan. Nanti pengawas akan memanggil banknya, yang pasti sebelum aturan berlaku, ini sudah harus mulai diatur,” ujarnya.

Kendati demikian, dia tidak dapat memastikan apakah kelonggaran rasio LTV di bank syariah bagi pembelian rumah pertama tersebut masih akan dapat dikembangkan hingga ke dalam rencana beleid mengenai LTV bagi bank syariah yang diharapkan dapat terbit akhir tahun ini.

Edy menambahkan cara lain yang diterapkan adalah melalui pemantauan RBB. Menurutnya, dalam pemantauan ini bank sentul ingin memastikan tidak ada bank syariah yang tiba-tiba mengubah rencana bisnis dengansignifikan karena penetapan LTV bagi bank konvensional telah lebih dulu berlaku.

Sesuai Rencana

Dia menegaskan dari hasil pantauan hingga kini pertumbuhan bank syariah masih sesuai dengan rencana awal dan tidak ada perubahan. “Saat ini pertumbuhan pembiayaan year-to-date 22%, kalau sampai 30%-40% pertumbuhan, artinya masih sama dengan tahun lalu, sesuai RHU saja,” ungkapnya.
Dia menambahkan tidak signifikannya perubahan pertumbuhan penyaluran pembiayan pada bank syariah juga dibantu oleh pertumbuhan dana pihak ketiga yang melambat pada tahun ini, sehingga pembiayaan tidak dapat melesat terlalu tinggi.

Dia melanjutkan Departemen Syariah sedang berusaha mengatur agar beleid bagi bank syariah kurang lebih sama dengan beleid yang telah berlaku bagi bank konvensional, terutama untuk akad murabahah yang kini banyak digunakan. (Bisnis Indonesia)


Bookmark and Share