Layanan 24 jam

Berita

Laba Bank Syariah Mandiri Naik 47%

BSM mencatat laba bersih sebesar Rp396,84 miliar pada semester I-2012, tumbuh 47% dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp270 miliar. Pendapatan margin dan bagi hasil menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan laba bersih tersebut. Direktur Keuangan BSM Zainal Fanani mengatakan, pendapatan margin dan bagi hasil BSM pada akhir Juni 2012 mencapai Rp2,24 triliun, naik 24,81% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp1,79 triliun.
“Pembiayaan yang kami salurkan naik 32,85% dari Rp30,06 triliun menjadi Rp39,93 triliun,” papar Zainal dalam jumpa pers paparan kinerja BSM di Wisma Mandiri, Jakarta, Senin (13/8).
Posisi aset BSM per Juni 2012 tercatat sebesar Rp49,70 triliun atau tumbuh 29,94% dibandingkan periode sama tahun lalu yang tercatat sebesar Rp38,25 triliun. Peningkatan aset tersebut ditopang oleh peningkatan dana pihak ketiga (DPK). “DPK kami tercatat meningkat dari
Rp33,96 triliun per Juni 2012 atau naik 27,55% menjadi Rp43,31 triliun,” ujar Zainal.
Hingga akhir Juni 2012, jumlah outlet BSM mencapai 705 outlet yang terdiri atas 128 kantor cabang, 425 kantor cabang pembantu, 49 kantor kas, sembilan konter layanan syariah, dan 94 payment point BSM juga tetap fokus pada sektor UMKM. Per Juni 2012, porsi pembiayaan UMKM atau nonkorporasi sebesar 73,34% dan porsi pembiayaan korporasi 26,66%.
Zainal mengatakan, kepemilikan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di BSM hampir mencapai 100%. Oleh karena itu, selaku pemegang saham utama. Bank Mandiri telah menyetor modal sebesar Rp300 miliar lagi pada Desember 2011. Selain itu, BSM telah menerbitkan subdebt terbatas sebesar Rp500 miliar pada waktu yang sama. “Dengan dibantu laba ditahan tahun 2011. rasio kecukupan modal (capita] adequacy ratfo/CAR) kami tercatat sebesar 13,66%. Untuk suntikan modal dari pemegang saham utama, kami tetapberharap hingga akhir tahun ini dan selanjutnya juga terus didukung,” kata Zainal.
Direktur BSM Hanawijaya menambahkan, tahun ini perseroan menargetkan total aset mencapai Rp60 triliun. Saat ini, total aset tercatat sebesar Rp49,7 triliun, sehingga pada semester II-2012, perseroan harus mencatatkan aset sekitar Rp10 triliun.
“Berdasarkan pengalaman tahun lalu, dengan jumlah outlet 500 unit, pada semester II-2011 kami bisa tumbuh sampai Rp10 triliun. Sekarang, dengan outlet sudah mencapai 705 unit, kami optimistis total aset bisa tumbuh lebih besar,” kata Hanawijaya.
Guna meningkatkan kinerja, perseroan berencana untuk melakukan penawaran umum perdana (initial public offering (IPO) saham pada 2014. Saat ini, manajemen masih menunggu persetujuan pemilik saham guna merealisasikan rencana tersebut. “Kami siap go public kalau pemegang saham sudah setuju,” jelas Direktur Utama BSM Yuslam Fauzi di Jakarta, baru-baru ini.
Dia mengaku belum bisa mengungkapkan jumlah saham yang akan dilepas dan dana yang akan didapat dari IPO itu, karena masih dalam kajian Bank Mandiri sebagai perusahaan induk.
Dukungan Pendanaan
Sampai 2015, Yuslam menyebutkan, Bank Mandiri sudah menyiapkan sejumlah dana untuk BSM. Untuk tahun ini saja, ada sekitar Rp500 miliar yang akan dikucurkan untuk BSM.
Sampai akhir Juni 2012, BSM baru membukukan pembiayaan sebesar Rp39,93 triliun, tumbuh 8,74% dari posisi akhir 2011 yang tercatat Rp36,72 triliun. Persentase itu jauh dari target ekspansi pembiayaan BSM sebesar 25% hingga akhir 2012.
Yuslam tidak menjelaskan apa yang menjadi penyebab perseroan tidak bisa meraih target sejumlah kinerja. Namun, selama tahun ini, Kementerian Agama telah dua kali menarik dana haji yang ada di per-bankan, termasuk bank syariah, yang kemudian ditempatkan pada sukuk. Penarikan tersebut menurunkan likuiditas di sejumlah bank syariah dan akhirnya berdampak pada ekspansi pembiayaan masing-masing bank.
Sebelumnya, Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini mengatakan, terkait dengan Peraturan Bank Indonesia (PBI) mengenai Kepemilikan Saham Bank Umum, hal itu tidak bermasalah bagi Bank Mandiri. Sebab, secara holding Bank Mandiri dimiliki oleh pemerintah sehingga tidak terkena aturan BI tersebut. Namun, aturan tersebut akan berpengaruh terhadap kepemilikan anak usaha Bank Mandiri di Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Sinar Harapan Bali (BSHB).
“Dalam hal ini, kepemilikan saham Bank Mandiri di kedua anak-usaha itu bisa kami pertahankan, sepanjang Bank Mandiri bisa menjaga tingkat kesehatan (GCG) di BSM dan BSHB yakni di level 1 dan. 2,” ujar dia. (grc/gtr/Investor Daily)


Bookmark and Share