Untuk Peradaban Mulia

Layanan 24 jam

Berita

Aturan Gadai Emas Pangkas Laba Bank Syariah

Laba bersih industri perbankan syariah turun 14,19% menjadi Rp127 miliar pada Januari 2012, dibandingkan periode sama tahun 2011 sebesar Rp148 miliar. Salah satu faktor penurunan laba yakni regulasi ketat dari Bank Indonesia (BI) terkait bisnis gadai emas bank syariah.

Realisasi laba tersebut berdasarkan data Statistik Perbankan Syariah yang dipublikasikan BI, untuk kategori bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS). Data juga menunjukkan, industri perbankan syariah membukukan pembiayaan Rp101,69 triliun pada Januari 2012, meningkat dibandingkan periode sama tahun 2011 senilai Rp69,73 triliun.

Total aset tercatat sebesar Rp143,89 triliun, meningkat dibandingkan Januari 2011 senilai Rp95,74 triliun. Penghimpunan dana pihak ketiga pada Januari 2012 sebesar Rp116,52 triliun, naik dibandingkan periode sama tahun 2011 senilai Rp75,08 triliun.

Direktur Bisnis PT Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah Bambang Widjanarko mengatakan, pengetatan bisnis gadai emas di bank syariah menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan penurunan laba industri. Pada 29 Februari 2012, BI menerbitkan Surat Edaran (SE) BI Nomor 14/7/ DPbS perihal Produk Qardh Beragun Emas bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah.

Surat edaran (SE) BI terkait bisnis gadai emas berpotensi menjadi salah satu faktor penurunan laba. Pasalnya, sebelum SE tersebut diterbitkan pada Februari 2012, perbankan syariah sudah diminta untuk menyesuaikan diri sejak bulan Januari,” jelas Bambang kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.
Menurut dia, penurunan transaksi dari bisnis gadai emas tidakhanya dipengaruhi oleh SE BI baru tersebut. Penurunan harga emas juga ikut memengaruhi kinerja transaksi gadai emas.

Sebelumnya, Direktur Kepatuhan BNI Syariah Imam Teguh Saptono menyebutkan, outstanding gadai emas perseroan pada Januari 2012 senilai Rp400 miliar. Dengan terbitnya aturan terkait gadai emas, bisnis gadai emas BNI Syariah hingga akhir tahun ini diperkirakan hanya mencapai Rp200 miliar.

Penurunan laba industri pada Januari tersebut, menurut Bambang, juga karena turunnya pricing di perbankan syariah. Akibat penurunan BI rate dan bunga penjaminan simpanan LPS, sejumlah bank syariah juga ikut menurunkan pricing.

Perbankan syariah yang terlambat menyesuaikan pricing berpotensi kehilangan nasabah. Sebab, nasabah-nasabah tersebut pindah ke bank konvensional atau bank syariah lain yang menawarkan pricing lebih rendah.
Antisipasi Penurunan Laba Bambang melanjutkan, untuk mengantisipasi gejala penurunan laba, perseroan akan menambah komposisi penghimpunan dana murah. Dengan dana murah yang lebih tinggi, biaya dana perseroan juga menjadi lebih rendah sehingga bisa menghasilkan laba lebih besar. Selain itu, perseroan membidik sektor pembiayaan lain seperti konsumsi, ritel, dan produktif, untuk mengantisipasi penurunan transaksi gadai emas.

Hal senada juga diungkapkan Direktur PT Bank Syariah Mandiri (BSM) Hanawijaya. Dia mengatakan, outstanding gadai emas BSM pada Desember 2011 mencapai Rp2,7 triliun. Namun, nilai tersebut berpotensi menurun menjadi Rp 1,5 triliun hingga akhir tahun 2012.

Terkait itu. BSM akan menerapkan strategi khusus untuk mengantisipasi penurunan outstanding gadai emas. Hanawijaya menjelaskan, BSM berencana mengembangkan sektor konsumsi, terutama pembiayaan pemilikan rumah (PPR)untuk mengantisipasi penurunan transaksi gadai emas. Rencananya, tahun ini perseroan menargetkan PPR mencapai Rp950 miliar. Pada 2011, PPR perseroan mencapai Rp450 miliar. “Kami akan memperluas kerja sama dengan para pengembang untuk mencapai target tersebut,” jelas Hanawijaya. Dia menambahkan, BSM juga akan mengembangkan pembiayaan mikro. Perseroan menargetkan pembiayaan mikro tahun ini mencapai Rp1,8 triliun, meningkat dibandingkan akhir tahun 2011 senilai Rp850 miliar.


Bookmark and Share