Layanan 24 jam

Berita

Bank Syariah Mudah Turunkan Margin

Bank syariah dinilai dapat dengan mudah menurunkan margin pembiayaan untuk menyesuaikan penurunan suku bunga pasar. Pangsa pasal-yang relatif kecil menjadi dorongan bank syariah untuk dapat menyesuaikan bunga pasar. “Pada dasarnya, margin bank syariah ikuti pasar, kalau tren naik, kita sesuaikan. Begitu juga kalau turun, dengan mudah disesuaikan,” ujar Direktur Utama Bank Syariah Mandiri Yuslam Fauzi di Jakarta, Selasa (13/12).

Menurut Yuslam, bank syariah akan menunggu kondisi pasar untuk penurunan margin. Namun, pangsa pasar bank syariah yang baru 3,5 persen mendorong bank syariah untuk menyesuaikan kondisi pasar. “Kita dengan pangsa pasar 3,5 persen ini, yakin bisa melakukan penyesuaian margin di pasar,” katanya.
Bank Syariah Mandiri mematok margin 12 persen untuk pembiayaan murabahah seperti yang diterapkan di pembiayaan pemilikan rumah (PPR). Dengan margin tersebut, Yuslam mengungkapkan, BSM masih dapat menarik minat nasabah. “Tapi, kalau pasar ada penurunan suku bunga, kita sesuaikan,itu tidak sulit,” ujarnya.
Dengan patokan margin tersebut, pembiayaan konsumer BSM bisa mencapai 30 persen dari total portofolio. Dari jumlah itu, 12-13 persen merupakan pembiayaan perumahan. Sementara, total pembiayaan BSM per November 2011 telah mencapai Rp40 triliun dengan total aset Rp45,5 triliun.
Untuk menyikapi naik turunnya suku bunga pasar, Bank Permata Syariah mengimplementasikan akad ijarah muntahiya bittamlik (IMBT). Dikonfirmasi sebelumnya, Head Bank Permata Syariah Achmad K Permana mengatakan, akad IMBT akan mengurangi risiko lantaran bank dan nasabah membuat kesepakatan untuk menyesuaikan dengan suku bunga pasar. Hal ini memungkinkan nasabah untuk membeli rumah dengan harga yang lebih mahal. Akan tetapi, angsuran dapat lebih ringan lantaran bertenor panjang.
Implementasi akad tersebut memiliki sejumlah keuntungan dibandingkan murabahah yang selama ini diterapkan dalam pembiayaan rumah (KPR). Akad murabahah dalam KPR akan memiliki margin yang lebih tinggi meskipun fix sepanjang masa pembayaran. Risiko gejolak suku bunga di pasar biasanya akan dibebankan pada nasabah melalui margin. “Jatuhnya, cost pembiayaan-mahal sehingga nasabah tidak bisa beli rumah yang harganya tinggi,” ujar Achmad.
Achmad mengatakan, Bank Permata Syariah masih menawarkan KPR akad murabahah dengan fix margin. Namun, akad ini memberikan pembiayaan KPR dengan tenor dan nominal yang terbatas. Hal ini lantaran bank harus menanggung risiko adanya perubahan suku bunga pasar.
Pembiayaan KPR dengan akad IMBT akan menjadi andalan produk Bank Permata Syariah pada tahun depan. Ditargetkan, pembiayaan tersebut dapat menaikkan porsi pembiayaan perumahan hingga 15 persen dari portofolio. Total pembiayaan KPR Permata Syariah , hingga November 2011 mencapai Rp 600 miliar atau 20 persen dari total portofolio pembiayaan. Jumlah ini naik dibanding akhir tahun lalu yang masih Rp 200 miliar. “Sekitar 60 persen dari pembiayaan KPR itu menggunakan akad IMBT, ” ujar Achmad. (Republika)


Bookmark and Share