Arah tren keuangan syariah Indonesia dinilai semakin meningkat dan positif. Dirjen Bimbingan Islam Kementerian Agama Nasarudin Umar mengatakan, kendati industri ini agak terlambat dimulai, namun tren ke depannya tetap positif.
Dalam lima tahun ke depan wajah perekonomian Indonesia akan menjadi wajah syariah karena mayoritas penduduk Indonesia juga Muslim,” kata Nasarudin, seusai pembukaan “Islamic Festival and Halal Expo”, Kamis (5/8).
Lembaga keuangan syariah pun, lanjutnya, berperan penting dalam mendorong dan menjembatani industri halal di Indonesia. “Melalui lembaga keuangan syariah ini sudah saatnya masyarakat Muslim memperoleh rezeki dengan berkah dan bersih dari riba,” ujar Nasarudin.
Sementara itu, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Linda Gumelar, menilai perbankan syariah berpeluang besar. “Semoga festival ini bisa jadi jembatan masyarakat untuk mengetahui lebih banyak tentang lembaga keuangan syariah,” jelas Linda.
Ia pun mendorong sosialisasi perbankan syariah, termasuk kepada kaum perempuan yang menjadi pelaku UKM. Linda menuturkan, sekitar 60 persen dari pelaku UKM adalah perempuan, namun masih mengalami kesulitan dalam hal permodalan. Pasar tersebut pun dapat menjadi ceruk khusus bagi lembaga keuangan syariah untuk mengembangkan bisnisnya.
Ketua Umum Perempuan Ekonomi Syariah, Munifah Syanwani, mengatakan pihak-nya juga mencoba menjembatani antara kaum perempuan dan lembaga keuangan syariah dengan melakukan sosialisasi. “Sekitar 60 persen UKM dikelola perempuan karena itu kita coba optimalkan dan mencoba menjembatani antara UKM dan bank syariah atau koperasi syariah,” kata Munifah.
Dorong inovasi
Salah satu tantangan yang dihadapi perbankan syariah adalah inovasi produk. Direktur Bank Syariah Mandiri (BSM) Hanawijaya mengatakan, secara umum hanya terdapat beberapa hal yang agak menghambat inovasi dalam produk perbankan syariah. Misalnya saja BSM sedang menyiapkan skim untuk pembiayaan konsumer.
Hanawijaya mencontohkan, jika konsumer membutuhkan uang untuk renovasi dan pendidikan anak, akadnya masing-masing. Jalan keluar untuk pembiayaan konsumer misalnya nasabah menjual mobil ke bank, lalu mendapat dana untuk digunakan kebutuhan-kebutuhan tadi. Tapi, kemudian nasabah bisa membeli mobilnya kembali dengan cicilan, masuk kategori seperti bai al inah. “Jika DSN mau, pembiayaan seperti itu hanya dibatasi untuk konsumer, tidak untuk pembiayaan yang lain,” jelas Hanawijaya, usai talkshow “Arah Kebijakan Strategis Perbankan Syariah” pada kesempatan sama, Kamis.
Menurutnya, kini pembiayaan konsumer di Indonesia sekitar Rp 600 triliun, tetapi perbankan syariah belum memiliki porsi besar. Pembiayaan konsumer BSM sebesar Rp 6 triliun dari total pembiayaan syariah Rp 21 triliun per Juli 2010.
Anggota DPR Fraksi PKS Sahibul Imam mengatakan, lembaga keuangan syariah saat ini dinilai sebagai alternatif dari konvensional. “Namun, ada dua hal yang perlu dilakukan untuk menerjemahkan prinsip syariah ini agar masyarakat tertarik, yaitu dengan prinsip objektivitas dan asas manfaat,” kata Sahibul.
Kepala Biro Penelitian, Pengembangan, dan Pengaturan Perbankan Syariah Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, Tirta Segara, mengatakan, dalam cetak biru perbankan syariah didorong untuk melakukan inovasi produk. “Inovasi ini sangat penting karena sebagian besar masyarakat Indonesia adalah nasabah rasional, sehingga diperlukan untuk menarik nasabah,” ujar Tirta.
Menurutnya, semester 12010 aset perbankan syariah mencapai Rp75 triliun, atau 2,8 persen dari total aset perbankan nasional sekitar Rp2.600 triliun. Sampai akhir 2010, tambah dia, setidaknya pangsa pasar perbankan syariah dapat mencapai sekitar tiga persen. “Dengan pertumbuhan yang terus meningkat kita harap pangsa pasar lima persen dapat tercapai pada 2013-2014,” tandas Tirta. (ed yeyen rostiyani))(Republika)