Layanan 24 jam

Berita

Bank BUMN Berjanji Genjot KUR

State-owned banks have promised to boost people-based business financing (KUR) this year. The statement was aired by President Director of  PT Bank Rakyat Indonesia Tbk – Sofyan Basyir and President Director of  PT Bank Mandiri Tbk Zulkifli Zaini concerning the sluggish flow of KUR financing.

As of  June 2010, the amount of disbursed KUR reached only Rp5.1 trillion, far below Rp20 trillion in target just as instructed by President Susilo Bambang Yudhoyono. The state-owned banks, consisting of Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN, Bank Bukopin, and Bank Syariah Mandiri,  are targeted to disburse Rp15,8 trillion of KUR financing. This issue was discussed on the coordination meeting at the Coordinating Ministry for Economy yesterday.

“We are optimistic about surpassing the Rp13 trillion target set for the banking industry” BRI President Director Sofyan Basyir said. He revealed that as of the end of June, BRI disbursed Rp3 trillion of KUR or some 52 percent of the target Rp6.2 trillion set for BRI.

He said further that BRI will not increase the target although last year BRI  could disburse KUR financing Rp 9-10 trillion. “The target is not increased. We are focusing on realizing the disbursement pursuant to the preset target,” he said. On the same occasion, President Director of Bank Mandiri – Zulkifli Zaini admitted that realization of KUR financing is still slow moving. As of June this year Bank Mandiri could only disburse Rp200 billion. “That’s some 10 percent of Rp1.845 trillion in target,” Zulkifli said.

The low financing disbursement, according to him, is due to several reasons including collateral requirement for the debtor and  the interest rates on offer. “But this issue has been resolved by amending the regulation early last year,” Zulkifli said.

Basyir said that amending the regulation in January through February  has helped boost disbursement of KUR. “Now we need only boost the socialization,” Sofyan said. Both Bank Mandiri and BRI have promised to expedite the KUR disbursement for the second semester.

According to Zulkifli, financing for the micro, small and medium businesses remain in good prospects. So far the non-performance level of KUR in Bank Mandiri was only 1.72 percent. “But compared to the total financing, KUR constitutes of only 0.6 percent, very low,” he said. By sector, according to Basyir, trading has so far taken the biggest portion of financing. “It took about  38-40 percent KUR in BRI,” he said.

It does not necessarily mean that other sectors take low portions of financing. “Trading sector includes trade services related to agriculture, fishery etc, making it a big sector,” he said. Minister of Cooperatives and SME Syarief Hasan also expressed optimism about  reaching the KUR target.

According to him, the low realization of KUR financing is attributable more to the much time spent on handling the issues and socialization. “This means that it will only be ready by April, the rest, we only have eight months available,” he said. (Koran Tempo)

Bank-bank pelat merah berjanji akan berupaya menggenjot penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) tahun ini. Pernyataan itu disampaikan Dirut PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Sofyan Basyir dan Dirut PT Bank Mandiri Tbk Zulkifli Zaini mengenai masih tersendatnya penyaluran KUR.

Sampai akhir Juni 2010, penyaluran KUR baru mencapai Rp5,1 triliun, jauh dari target maksimal Rp20 triliun seperti diinstruksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Khusus untuk bank BUMN, yakni Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN, Bank Bukopin, dan Bank Syariah Mandiri, ditargetkan menyalurkan Rp15,8 triliun. Permasalahan ini dibahas dalam rapat koordinasi di kantor Menteri Koordinator Perekonomian kemarin

“Kami optimistis target Rp13 triliun untuk semua perbankan akan terlampaui”kata Dirut BRI Sofyan Basyir. Ia mengungkapkan, sampai akhir Juni ini, BRI telah menyalurkan Rp3 triliun KUR atau sekitar 52 persen dari target Rp6,2 triliun yang ditetapkan untuk BRI.

Menurut dia, BRI tidak akan menambah target penyaluran meskipun tahun lalu BRI mampu menyalurkan KUR hingga Rp 9-10 triliun. “Tidak ada penambahan target, Kami hanya akan terus berupaya merealisasi penyerapan sesuai dengan target yang telah ditetapkan,” ujarnya. Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini mengakui realisasi kredit usaha rakyat memang masih tersendat. Untuk Bank Mandiri, ujarnya, sampai akhir Juni yang tersalurkan baru mencapai Rp200 miliar. “Itu sekitar 10 persen dari target Rp1,845 triliun,” kata Zulkifli.

Rendahnya penyerapan ini,menurut dia, disebabkan oleh beberapa permasalahan. Di antaranya mengenai jaminan kredit yang harus diberikan debitor dan besaran bunga yang dipatok. “Tapi permasalahan ini kan sudah selesai dengan relaksasi peraturan yang dibuat pada awal tahun lalu,” ujar Zulkifli.

Basyir menyatakan upaya relaksasi peraturan yang telah dilakukan pada Januari hingga Februari lalu cukup membantu penyerapan KUR. “Sekarang tinggal kami gencarkan saja sosialisasinya,” kata Sofyan. Baik Bank Mandiri maupun BRI berjanji berupaya mempercepat penyaluran KUR pada sisa semester kedua ini.

Menurut Zulkifli, kredit untuk usaha mikro, kecil, dan menengah ini tetap menjanjikan secara bisnis. Sejauh ini, rasio kredit seret KUR di Bank Mandiri hanya 1,72 persen. “Itu KUR saja, kalau secara keseluruhan hanya 0,6 persen, rendah sekali,” katanya. Secara sektoral, Basyir mengatakan, sektor perdagangan masih menjadi yang terbesar dalam menyerap kredit. “Menyerap sekitar 38-40 persen KUR di BRI,” ujarnya.

Namun, ia mengatakan, hal ini bukan berarti sektor lain memiliki tingkat penyerapan yang rendah. Ia beralasan, “Sektor perdagangan ini kan termasuk juga perdagangan pertanian, kelautan, dan sebagainya, jadi kesannya sektor perdagangan itu besar,” ujarnya.Menteri Koperasi dan Usaha Kecil-Menengah Syarief Hasan juga menyatakan optimistis target KUR akan tercapai.

Menurut dia, rendahnya realisasi penyaluran KUR lebih disebabkan oleh banyaknya waktu yang terbuang untuk mengatasi masalah aturan dan sosialisasinya. “Itu baru selesai April. Praktis, kami hanya punya waktu delapan bulan,” ujarnya. (Koran Tempo)


Bookmark and Share